EDUCARE.CO.ID-Paguyuban Sumarah menggelar peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Sasana Adirasa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Melalui kegiatan bertema “Dengan Pancasila, Agungkan Budaya Luhur Nusantara”, organisasi tersebut mengajak masyarakat memperkuat persatuan sekaligus menjaga warisan budaya bangsa.
Kegiatan ini menghadirkan tokoh lintas agama, penghayat kepercayaan, akademisi, budayawan, dan masyarakat umum. Selain itu, peserta memanfaatkan momentum Hari Lahir Pancasila untuk memperkuat semangat kebhinekaan di tengah keberagaman Indonesia.
Menurut Ketua DPD Paguyuban Sumarah DKI Jakarta, Titiek Sulistyowati, Pancasila telah menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, masyarakat perlu terus menghayati dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila adalah dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia yang telah terbukti mempersatukan masyarakat yang beragam,” ujar Titiek.
Pancasila dan Budaya Luhur Tidak Bisa Dipisahkan
Titiek menjelaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai yang selama ini dijaga oleh Paguyuban Sumarah.
Menurutnya, Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara. Namun, Pancasila juga menjadi pedoman moral yang menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
Selain itu, ajaran Sumarah mengajarkan manusia untuk hidup dalam bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, menghormati sesama, serta menjaga keseimbangan sosial. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut sejalan dengan cita-cita Pancasila untuk membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera.
Titiek menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu melihat perbedaan sebagai ancaman. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bersama.
“Perbedaan dan keberagaman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat bersama,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan melalui pengamalan nilai budaya dan semangat gotong royong.
Kementerian Kebudayaan Apresiasi Peran Penghayat Kepercayaan
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA), Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Pamong Budaya BKMA Kementerian Kebudayaan, Aji Wijayanto, menyampaikan apresiasi kepada organisasi penghayat kepercayaan yang terus menjaga nilai budaya bangsa.
Menurut Aji, komunitas penghayat kepercayaan ikut memperkuat karakter kebangsaan melalui ajaran dan praktik yang mereka jalankan.
“Ajaran dan praktik yang berkembang dalam organisasi penghayat kepercayaan mengandung nilai luhur yang berkontribusi pada penguatan karakter kebangsaan,” ujarnya.
Selain itu, Aji menilai organisasi penghayat kepercayaan turut menjaga identitas budaya Indonesia. Dengan demikian, nilai budaya Nusantara tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Diskusi Bahas Pancasila di Tengah Tantangan Modern
Setelah sesi sambutan, panitia melanjutkan kegiatan dengan diskusi panel yang berlangsung interaktif. Melalui forum tersebut, peserta membahas relevansi Pancasila dalam kehidupan masyarakat modern.
Akademisi Kunto Adi Wibowo mengajak peserta memahami Pancasila sebagai bagian dari perjalanan budaya dan spiritual bangsa Indonesia. Menurutnya, masyarakat perlu menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Pusat, Endang Retno Lastani, menjelaskan perkembangan pengakuan terhadap hak-hak penghayat kepercayaan di Indonesia.
Selain itu, Endang mendorong generasi muda untuk mempelajari, menjaga, dan mengembangkan warisan budaya Nusantara.
Pada kesempatan yang sama, praktisi Paguyuban Sumarah, Wisnu Sarjono, memaparkan sejarah lahirnya Paguyuban Sumarah dan perjalanan spiritual pendirinya, Raden Ngabei Soekinohartono atau Pak Kino.
Menurut Wisnu, ajaran Sumarah membentuk manusia yang beriman, beradab, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Perkuat Kebhinekaan dalam Bingkai Pancasila
Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai tokoh dari organisasi penghayat kepercayaan di sejumlah daerah. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa keberagaman budaya, tradisi, dan keyakinan dapat berjalan harmonis dalam bingkai Pancasila.
Selain itu, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjaga persatuan tanpa harus menghilangkan identitas budaya masing-masing.
Melalui kegiatan ini, Paguyuban Sumarah berharap masyarakat semakin mengenal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Dengan demikian, masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih rukun, toleran, dan harmonis. Pada akhirnya, semangat tersebut akan memperkuat persatuan bangsa sekaligus menjaga budaya luhur Nusantara di tengah perkembangan zaman.



