Wamendiktisaintek Dorong Penguatan PAUD untuk Menyongsong Era Kecerdasan Artifisial
educare.co.id, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini menjadi fondasi utama dalam menyiapkan generasi masa depan di era kecerdasan artifisial (AI). Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara pada 2025 International Symposium on Early Childhood Education and Development di Ballroom Chubb Square, Rabu (17/12). Dengan proporsi anak usia 0–6 tahun mencapai 10,82 persen dari total penduduk Indonesia, menurut data BPS, tantangan sekaligus tanggung jawab bersama untuk memenuhi hak anak sejak dini menjadi semakin besar.
Dalam paparannya, Wamen Stella menekankan bahwa pembelajaran di era AI tidak semata-mata soal kemampuan teknis seperti coding. Yang jauh lebih penting adalah menanamkan cara berpikir, memahami pola, serta struktur pemecahan masalah sejak usia dini. Menurutnya, anak yang terbiasa berpikir kritis akan mampu menghadapi berbagai persoalan baru di masa depan, meski bentuknya berbeda. Lingkungan belajar yang tepat diyakini mampu menjaga rasa ingin tahu anak agar terus tumbuh dan berkembang.
Sejalan dengan hal tersebut, Country Head Tanoto Foundation Indonesia, Inge Sanitasia Kusuma, mengingatkan bahwa hampir 43 persen anak di bawah usia lima tahun berisiko tertinggal akibat minimnya stimulasi, gizi, dan kesempatan belajar dini. Ia menegaskan bahwa investasi pada pengasuhan dan pendidikan anak usia dini merupakan strategi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Pemerintah pun telah memperkuat komitmen ini melalui Program PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) yang menjadi prioritas dalam RPJMN 2025–2029.
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti pentingnya sinergi kebijakan nasional, termasuk penguatan Kabupaten/Kota Layak Anak dan kehadiran Taman Asuh Ramah Anak (TARA). Seluruh upaya ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Simposium ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030 dan menyongsong Indonesia Emas 2045.
