Pakan Ikan Bisa Diatur Otomatis Sesuai Ukuran, Inovasi POLSUB Ini Pakai IoT dan Energi Surya

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mengelola kolam ikan kini tidak harus selalu berada di tepi kolam. Politeknik Negeri Subang (POLSUB) bersama CV Sari Bumi Nusantara (SBN) mengembangkan sistem Smart Integration Aquaculture yang memungkinkan pembudidaya mengatur pemberian pakan dan memantau kondisi operasional dari jarak jauh.

Sistem ini memadukan Internet of Things (IoT), energi surya, Programmable Logic Controller (PLC), serta pelontar pakan sentrifugal otomatis. Teknologi tersebut menyasar salah satu persoalan terbesar dalam budidaya ikan, yakni biaya pakan dan pengelolaannya.

Tim peneliti Jurusan Teknik Mesin POLSUB mengembangkan inovasi tersebut di bawah koordinasi Susilawati. Tim juga melibatkan Fendy Thomas, Firdaus Ashari, Dino Dwi Aryanto, Nurizzi Rifqi Ferdian, serta sejumlah mahasiswa.

Berdasarkan sumber Politeknik Negeri Subang (POLSUB), kolaborasi ini bertujuan menjawab tantangan budidaya ikan, terutama pada fase pembibitan (nursery) hingga pembesaran (grow-out).

Biaya Pakan Bisa Capai 70 Persen

Persoalan biaya menjadi salah satu alasan utama tim mengembangkan sistem tersebut.

Berdasarkan analisis CV SBN, pakan dapat menyerap sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi budidaya ikan. Karena itu, pengelolaan pakan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi usaha.

Masalah muncul ketika pembudidaya menggunakan alat pakan otomatis konvensional. Alat tersebut belum tentu mampu menyesuaikan ukuran pakan dan pola penyebarannya ketika ikan masih berada pada tahap benih.

Pakan yang terlalu banyak atau tidak tersebar secara tepat dapat meninggalkan sisa di dalam kolam. Kondisi itu berpotensi menurunkan kualitas air dan mengganggu lingkungan budidaya.

Tim POLSUB kemudian mencari cara agar sistem pemberian pakan dapat mengikuti kebutuhan ikan pada setiap tahap pertumbuhan.

Pelontar Pakan Bisa Menyesuaikan Ukuran Ikan

Koordinator bidang manufaktur tim peneliti POLSUB, Dino Dwi Aryanto, menjelaskan bahwa mekanisme pelontar sentrifugal menjadi salah satu bagian utama inovasi tersebut.

Sistem itu dapat mengatur pola dan tekanan penyebaran pakan secara otomatis. Dengan begitu, pembudidaya tidak perlu terus-menerus mengubah pengaturan secara manual.

“Pelontar ini mampu menyesuaikan pola dan tekanan distribusi pakan secara otomatis. Pakan mikro yang halus dapat diberikan secara merata di fase benih, dan skala sebaran yang lebih besar dapat ditingkatkan pada fase pembesaran tanpa perlu intervensi manual dari petani,” papar Dino.

Teknologi tersebut memungkinkan sistem menyesuaikan kebutuhan pakan antara fase nursery dan grow-out.

Pada tahap benih, sistem dapat menyebarkan pakan berukuran mikro secara lebih merata. Ketika ikan memasuki fase pembesaran, sistem dapat meningkatkan cakupan sebaran pakan.

Kendalikan Pakan Lewat Smartphone

Selain mekanisme pelontar, tim juga menghubungkan sistem dengan teknologi IoT.

Sistem mengintegrasikan Programmable Logic Controller (PLC) dengan modul komunikasi IoT. Kombinasi ini memungkinkan pembudidaya memantau berbagai informasi operasional tanpa harus terus berada di lokasi kolam.

Pembudidaya dapat memantau status tegangan dan kondisi pengisian baterai tenaga surya. Mereka juga dapat mengatur jadwal pemberian pakan melalui smartphone atau aplikasi berbasis web.

Dengan sistem tersebut, pengelolaan kolam menjadi lebih praktis. Pembudidaya dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang masuk secara real-time.

Data Real-Time Bantu Efisiensi Pakan

Anggota tim peneliti, Firdaus Ashari, menyebut sistem pemberian pakan berbasis data real-time dapat membantu meningkatkan efisiensi budidaya.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian ialah Feed Conversion Ratio (FCR). Tim menyebut sistem otomatis tersebut mampu menurunkan FCR sekaligus meningkatkan survival rate atau tingkat kelangsungan hidup ikan.

Pemberian pakan yang lebih terukur membantu pembudidaya menghindari pemberian pakan secara berlebihan. Cara ini juga dapat mengurangi potensi sisa pakan yang mencemari air kolam.

Fendy Thomas, anggota tim peneliti lainnya, menjelaskan dampak penggunaan sistem terhadap pertumbuhan ikan.

“Sistem yang memantau kondisi kolam secara real-time memungkinkan pemberian pakan dengan kuantitas dan waktu yang sangat presisi. Hal ini mencegah stres metabolik pada ikan dan meningkatkan efektivitas penyerapan nutrisi, yang pada akhirnya bisa mendongkrak total pertumbuhan hingga dua kali lipat,” tambah Fendy.

Dorong Budidaya Ikan Lebih Modern

Pengembangan Smart Integration Aquaculture ini mendapat dukungan pendanaan dari Program Hilirisasi Riset Prioritas – SINERGI Kemdiktisaintek.

Kolaborasi POLSUB dan CV SBN menunjukkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat masuk ke kebutuhan industri dan pembudidaya. Teknologi yang mereka kembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi mengarah pada penerapan di sektor budidaya.

Integrasi IoT, energi terbarukan, PLC, dan sistem kendali cerdas membuka peluang pengelolaan kolam yang lebih efisien.

Bagi pembudidaya ikan, teknologi seperti ini dapat menjadi langkah menuju precision aquaculture, yaitu pendekatan budidaya yang memanfaatkan data dan teknologi untuk mengatur proses produksi secara lebih terukur.

Inovasi POLSUB dan CV SBN pun memperlihatkan bahwa teknologi digital dapat mengambil peran dalam sektor perikanan. Dari pengaturan pakan hingga pemantauan kolam, proses budidaya kini dapat berjalan lebih terukur dan modern.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article