BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai November 2026, Orang Tua Perlu Waspadai Kesehatan Anak

Must read

EDUCARE.CO.ID – Peralihan musim dari kemarau ke hujan menuntut orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan anak. Perubahan suhu, kelembapan, hingga kondisi lingkungan dapat memengaruhi risiko infeksi. Karena itu, orang tua perlu mengenali gejala penyakit sejak awal agar dapat mengambil langkah yang tepat.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, menjelaskan bahwa perubahan cuaca tidak secara langsung menyebabkan anak jatuh sakit. Namun, sejumlah faktor yang menyertai pergantian musim dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.

Mengutip dari Antara, “Bukan berarti perubahan cuaca secara langsung membuat anak sakit, tetapi perubahan suhu dan kelembapan, pola aktivitas, serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi,” kata Aisya.

Empat Penyakit yang Perlu Diwaspadai Saat Musim Hujan

Peralihan dari kemarau berkepanjangan menuju musim hujan dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit pada anak. Orang tua perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan kebersihan untuk mengurangi paparan sumber infeksi.

Berikut empat penyakit yang perlu mendapat perhatian:

  1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

    ISPA dapat muncul dalam bentuk batuk, pilek, dan influenza. Perubahan suhu serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi saluran pernapasan.

  2. Diare

    Anak dapat mengalami diare setelah mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Karena itu, orang tua perlu menjaga kebersihan makanan, minuman, dan peralatan makan anak.

  3. Demam Berdarah Dengue (DBD)

    Genangan air selama musim hujan dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD di lingkungan tempat tinggal.

  4. Leptospirosis

    Penyakit ini perlu mendapat perhatian terutama ketika banjir melanda. Anak dapat terpapar bakteri penyebab leptospirosis saat bersentuhan dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi.

Aisya mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan risiko leptospirosis ketika anak beraktivitas di sekitar area banjir.

“Jika terjadi banjir, kita juga perlu mewaspadai leptospirosis, terutama pada anak yang berkontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi,” tutur Aisya.

Kenali Gejala Awal Penyakit pada Anak

Selain memperhatikan kondisi lingkungan, orang tua perlu memantau perubahan kondisi fisik dan perilaku anak. Beberapa gejala awal yang patut diperhatikan meliputi demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, muntah, dan diare.

Perhatikan pula tingkat aktivitas anak. Jika anak terlihat lebih lemas, kurang aktif, atau berbeda dari kebiasaannya, orang tua sebaiknya segera memantau kondisinya.

Meski demikian, gejala yang muncul tidak selalu menunjukkan jenis penyakit yang sama. Aisya mengingatkan bahwa orang tua tidak boleh langsung menganggap demam saat musim hujan sebagai gejala flu.

Demam juga dapat menyertai DBD maupun infeksi lainnya. Karena itu, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

Tujuh Tanda Bahaya yang Membutuhkan Penanganan Medis

Orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika menemukan tanda bahaya. Aisya menyebut beberapa kondisi yang tidak boleh diabaikan, yaitu:

  • Sesak napas.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kejang.
  • Tanda-tanda dehidrasi.
  • Demam disertai nyeri perut hebat.
  • Muntah terus-menerus.
  • Perdarahan.

Tanda-tanda tersebut membutuhkan perhatian medis segera. Orang tua sebaiknya tidak menunda pemeriksaan atau hanya mengandalkan penanganan mandiri di rumah.

BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai November 2026

Kewaspadaan terhadap kesehatan anak juga perlu berjalan seiring dengan informasi prakiraan cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026/2027 mulai berlangsung pada November. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026.

BMKG memperkirakan awal musim hujan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Pada November 2026, sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau 24,66 persen luas daratan diprediksi mulai memasuki musim hujan.

Selanjutnya, pada Desember 2026, jumlah tersebut diperkirakan bertambah menjadi 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan.

BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis. Fenomena El Niño yang sangat kuat turut memengaruhi kondisi tersebut.

Informasi prakiraan musim ini dapat menjadi perhatian masyarakat untuk mempersiapkan lingkungan tempat tinggal dan menjaga kesehatan keluarga.

Jaga Kesehatan Anak Sebelum Penyakit Menyerang

Perubahan musim menjadi pengingat bagi orang tua untuk membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga. Menjaga kebersihan makanan dan minuman, memperhatikan lingkungan sekitar, serta memantau kondisi anak merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit.

Aisya, yang juga dosen Fakultas Kedokteran UNS, mengimbau orang tua agar segera memeriksakan anak ketika menemukan tanda bahaya.

“Kenali gejala awal penyakit dan jangan menunda pemeriksaan jika anak menunjukkan tanda bahaya. Karena menjaga kesehatan anak bukan hanya tentang mengobati saat sakit, tetapi juga membangun kebiasaan sehat setiap hari,” ujar Aisya.

Dengan mengenali risiko penyakit dan memahami tanda bahayanya, orang tua dapat mengambil langkah lebih cepat ketika kondisi anak mulai berubah. Kewaspadaan sejak dini juga membantu keluarga menghadapi musim hujan dengan lebih siap.

 

Penulis: Riezka Ayu Juniarty

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article