ISI Padangpanjang Angkat Krisis Danau Maninjau Lewat Pertunjukan Tari “Tubo Eutrofikasi”

Must read

EDUCARE.CO.ID – Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menghadirkan pertunjukan multidisiplin bertajuk Tubo Eutrofikasi yang memadukan tari, teater, musik, dan seni visual. Karya ini mengangkat legenda Bujang Sembilan sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap persoalan lingkungan di Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari Festival Kesenian Indonesia (FKI+) XIII Tahun 2026. Para seniman mementaskannya di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjang pada Kamis (22/10).

Melalui pendekatan seni kontemporer, Tubo Eutrofikasi mempertemukan tradisi lisan Minangkabau dengan persoalan ekologi yang dihadapi masyarakat saat ini. Karya tersebut mengajak penonton melihat kembali hubungan manusia dengan alam dan tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Legenda Bujang Sembilan menjadi pijakan utama penciptaan pertunjukan. Kisah Siti Rasani, Giran, dan sembilan saudara laki-lakinya yang berkaitan dengan asal-usul Danau Maninjau mendapat tafsir baru melalui perspektif kekinian.

Konflik, ketidakadilan, dan kehancuran dalam cerita tersebut kemudian menjadi simbol ketidakseimbangan hubungan manusia. Para seniman menghubungkan konflik dalam legenda dengan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Dengan pendekatan ini, folklor tidak hanya hadir sebagai cerita warisan masa lalu. Tradisi lisan tersebut juga menjadi sumber pengetahuan budaya untuk membaca persoalan kehidupan masa kini.

Angkat Fenomena Tubo dan Eutrofikasi Danau Maninjau

Persoalan lingkungan menjadi salah satu gagasan utama dalam Tubo Eutrofikasi. Karya ini mengambil inspirasi dari fenomena tubo di Danau Maninjau dan persoalan eutrofikasi yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Secara ilmiah, eutrofikasi terjadi ketika perairan menerima unsur hara secara berlebihan. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan alga dan mengubah keseimbangan ekosistem.

Sementara itu, fenomena tubo di Danau Maninjau berkaitan dengan perubahan kondisi perairan. Pergerakan massa air dapat membawa air berkadar oksigen rendah dari lapisan bawah menuju permukaan dan memicu kematian ikan secara massal.

Kedua fenomena tersebut menjadi landasan refleksi artistik para pencipta karya. Mereka menerjemahkan persoalan lingkungan melalui gerak tubuh, komposisi suara, visual panggung, dan rangkaian adegan dramatik.

Pertunjukan menampilkan gambaran kehancuran, pergulatan manusia, serta perubahan hubungan manusia dengan alam. Penari bermasker, gerakan tubuh menyerupai mesin, dan visual panggung bernuansa kerusakan lingkungan memperkuat pesan tentang tekanan ekologis.

Berdasarkan sumber ISI Padangpanjang, karya ini menggabungkan warisan folklor Minangkabau dengan isu ekologi Danau Maninjau. Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan pemanfaatan seni sebagai medium untuk menyampaikan persoalan publik dan membangun kesadaran lingkungan.

FIRM2951-scaled

Ali Sukri Kembangkan Motif Tari Tradisional ke Gerak Kontemporer

Dari sisi koreografi, Ali Sukri menggarap Tubo Eutrofikasi dengan mengembangkan unsur gerak Tari Bujang Sambilan karya Sawanismar. Ia mengolah sejumlah motif tradisional menjadi komposisi tari kontemporer.

Beberapa motif yang menjadi sumber inspirasi meliputi Padah, Koyah, Lapiah Jerami, Awan Bentan, Adau-Adau, dan Langkah Tigo.

Setiap motif membawa karakter dan makna yang berbeda. Padah berkaitan dengan pesan dan nasihat, sedangkan Koyah menggambarkan kelembutan. Lapiah Jerami mencerminkan kerja sama, sementara Awan Bentan menghadirkan gambaran keindahan alam.

Adau-Adau menggambarkan keraguan, sedangkan Langkah Tigo berkaitan dengan keteraturan dan keseimbangan.

Ali Sukri kemudian mengeksplorasi nilai-nilai tersebut melalui bahasa gerak kontemporer. Perpaduan ini membangun hubungan antara tradisi Minangkabau dan persoalan kehidupan modern.

Tokoh Siti Rasani dan Giran juga memperkuat unsur dramatik pertunjukan. Konflik dalam legenda berkembang menjadi rangkaian adegan yang menghubungkan kisah Bujang Sembilan dengan refleksi tentang kerusakan lingkungan dan konsekuensi tindakan manusia.

Libatkan Seniman dari Berbagai Disiplin

FIRM3281-scaled

Penciptaan Tubo Eutrofikasi melibatkan sejumlah seniman dengan keahlian berbeda. Kolaborasi tersebut membangun satu kesatuan pertunjukan yang memadukan gerak, musik, visual, dan dramaturgi.

Berikut susunan tim kreatif yang terlibat:

  • Ali Sukri: Koreografer.
  • Indra Arifin: Komposer.
  • Eva Yanti: Penata seni visual.
  • Sahrul N: Dramaturg.
  • Afrizal H: Penulis naskah.
  • Adriandi: Penata artistik.
  • Dedi Darmadi: Penata lampu.

Setiap anggota tim mengembangkan unsur artistik sesuai bidangnya. Koreografi membangun bahasa tubuh dan gerak, sedangkan komposisi musik menghadirkan atmosfer dramatik.

Sementara itu, dramaturgi dan penulisan naskah merangkai legenda Bujang Sembilan dengan gagasan tentang krisis ekologi. Penataan artistik, visual, dan pencahayaan turut memperkuat suasana serta gambaran lanskap lingkungan di atas panggung.

Pada aspek musikal, tim mengolah pola gandang dan irama dendang Minangkabau melalui pendekatan kontemporer. Mereka juga mengeksplorasi teknologi pengolahan suara untuk membentuk tekstur dan suasana musikal.

Dengan demikian, musik tradisional tidak hanya mengiringi gerakan penari. Unsur bunyi juga berperan membangun ritme dan memperkuat pesan pertunjukan.

Kolaborasi tersebut mempertemukan pengetahuan tradisional, eksplorasi artistik, dan teknologi modern. Perpaduan berbagai disiplin ini membuka ruang penciptaan karya yang dekat dengan persoalan masyarakat.

FKI+ XIII Dorong Pertemuan Seni, Folklor, dan Ekologi

Kehadiran Tubo Eutrofikasi dalam FKI+ XIII Tahun 2026 sejalan dengan tema festival, yaitu Art, Folklore and Ecology atau Seni, Folklor, dan Ekologi.

Tema tersebut mempertemukan tiga unsur penting dalam penciptaan seni. Warisan budaya menjadi sumber inspirasi, inovasi artistik mengembangkan bentuk ekspresi, sedangkan isu ekologi menghadirkan konteks yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bagi perguruan tinggi seni, pendekatan lintas disiplin seperti ini membuka peluang pengembangan pengetahuan dan praktik artistik. Penciptaan karya tidak hanya berfokus pada nilai estetika, tetapi juga dapat mengangkat persoalan sosial, budaya, dan lingkungan.

Melalui Tubo Eutrofikasi, ISI Padangpanjang mengolah kekayaan budaya lokal menjadi gagasan yang relevan dengan tantangan masa kini. Legenda Bujang Sembilan tidak hanya hadir sebagai cerita asal-usul Danau Maninjau, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan manusia dengan alam.

Pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi ruang dialog antara tradisi dan realitas kehidupan. Melalui bahasa gerak, bunyi, dan visual, para seniman mengajak masyarakat memandang pelestarian budaya dan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Tubo Eutrofikasi sekaligus memperlihatkan kontribusi perguruan tinggi seni dalam mengembangkan karya yang menghubungkan identitas budaya, kreativitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article