EDUCARE.CO.ID – Limbah jeruk biasanya berakhir di tempat pembuangan atau terkubur ketika buah mengalami kerusakan. Namun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melihat peluang lain dari limbah tersebut.
Melalui proyek PeelPop, mahasiswa PPG Prajabatan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM mengolah limbah kulit jeruk menjadi paper soap atau sabun kertas.
Tim Kelompok 1 Proyek Kepemimpinan Kelas PGSD 1 memperkenalkan sekaligus mempraktikkan pembuatan produk tersebut bersama masyarakat Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, pada Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan sumber yang dikutip dari RRI, kegiatan tersebut tidak hanya membawa misi lingkungan. Tim juga ingin meningkatkan nilai ekonomi limbah jeruk sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat.
Limbah Jeruk Jadi Bahan Bernilai Ekonomi
Desa Wringinanom memiliki potensi jeruk yang cukup besar. Namun, serangan lalat buah membuat sebagian hasil panen mengalami kerusakan.
Petani selama ini cenderung membuang atau mengubur jeruk yang rusak. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa mencari cara agar limbah buah tetap memiliki nilai guna.
Tim kemudian mengembangkan PeelPop dengan memanfaatkan ekstrak kulit jeruk sebagai salah satu bahan dalam pembuatan sabun kertas.
Dosen pembimbing proyek, Fahdian Rahmadani, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kegigihan mahasiswa selama mengembangkan formula.
“Banyak hal terjadi saat uji coba sebelumnya dan banyak formula yang kita coba dan gagal, tapi mahasiswa-mahasiswa ini tidak mudah menyerah,” ujar Fahdian kepada RRI.co.id.
Menurutnya, mahasiswa terus mencari formula yang tepat hingga proyek tersebut dapat mereka jalankan bersama masyarakat.
Kulit Jeruk Diekstrak, Lalu Diolah Jadi Sabun
Tim tidak langsung mendapatkan formula PeelPop. Mereka melewati sejumlah proses uji coba untuk memperoleh komposisi yang sesuai.
Pada tahap awal, tim mengekstrak limbah kulit jeruk untuk mengambil sarinya. Mereka kemudian memformulasikan sari tersebut dengan sejumlah bahan pembuatan sabun, seperti texapone, PVA, gliserin, pewarna, pewangi, dan phenoxyethanol.
Hasil akhirnya berupa sabun kertas tipis yang praktis untuk dibawa bepergian.
Menariknya, peserta pelatihan juga belajar bahwa produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bentuk sabun cair maupun foam.
Warga Ikut Praktik Langsung

Pelatihan PeelPop melibatkan berbagai unsur masyarakat Wringinanom. Pesertanya antara lain ibu-ibu PKK, pelaku UMKM, Karang Taruna, hingga perangkat desa.
Tim tidak hanya memberikan materi. Peserta juga langsung mempraktikkan proses pembuatan paper soap.
Kemudahan proses pembuatan mendapat respons positif dari peserta.
Salah satu anggota PKK yang mengikuti praktik menilai bahan dan prosesnya cukup terjangkau.
“Pembuatannya cukup mudah ya, bahannya juga murah jadi tidak perlu keluar uang banyak untuk membuat produk ini,” tuturnya.
Respons tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan PeelPop sebagai produk usaha lokal.
Bisa Jadi Suvenir Wisatawan Menuju Bromo
Peluang PeelPop tidak berhenti pada pengolahan limbah. Tim juga melihat posisi geografis Wringinanom sebagai peluang pemasaran.
Desa tersebut menjadi salah satu jalur perlintasan wisatawan yang menuju kawasan Gunung Bromo. Kondisi itu membuka peluang bagi produk berukuran kecil dan praktis seperti paper soap.
Tim mencetak PeelPop dalam bentuk irisan lingkaran tipis. Mereka kemudian mengemasnya dalam wadah berukuran travel size.
Kepala UMKM Wringinanom menilai konsep tersebut juga dapat berkembang menjadi bagian dari wisata edukasi.
“Program seperti ini akan sangat menarik jika bisa dilaksanakan untuk pembelajaran siswa luar dan wisatawan yang berwisata di sini,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, PeelPop berpotensi hadir bukan hanya sebagai produk kebersihan, tetapi juga sebagai suvenir yang membawa cerita tentang pemanfaatan limbah lokal.
Desa Dorong PeelPop Berlanjut
Kepala Desa Wringinanom turut memberikan dukungan terhadap pengembangan program.
Ia berharap mahasiswa tidak berhenti setelah menyelesaikan proyek kepemimpinan.
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, tetapi dapat berkembang untuk memberdayakan masyarakat Wringinanom ini,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang.
PDM Kabupaten Malang menilai PeelPop sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat dan kepedulian lingkungan. Inovasi tersebut juga menjadi bentuk pengabdian calon pendidik yang berupaya menjawab persoalan masyarakat melalui solusi yang memiliki nilai ekonomi.
PeelPop Dirancang dengan SMART Goals
Tim Kelompok 1 menggunakan kerangka SMART Goals untuk menjaga arah pengembangan PeelPop.
Pada aspek Specific, tim menargetkan pengembangan produk sekaligus pemberdayaan UMKM, PKK, dan Karang Taruna agar dapat mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Dari sisi Measurable, tim menetapkan sejumlah indikator, mulai dari formula yang stabil, uji laboratorium, pelaksanaan pelatihan, modul panduan, hingga pengurangan volume limbah buah rusak.
Tim juga menyusun tahapan yang realistis melalui identifikasi limbah bersama petani, pengembangan produk, pelatihan, pengemasan, hingga pemasaran melalui jaringan UMKM.
Target tersebut mereka sesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan peluang usaha masyarakat Wringinanom. Seluruh rangkaian juga memiliki batas waktu sesuai linimasa Projek Kepemimpinan PPG Prajabatan 2026.
Mahasiswa Ingin Tinggalkan Dampak Jangka Panjang
Ketua Proyek Kepemimpinan, Ella Nur Irwina, S.Pd., mengatakan proyek PeelPop memberikan pengalaman penting bagi mahasiswa dalam memahami arti kepemimpinan di tengah masyarakat.
Menurutnya, peran guru tidak berhenti di ruang kelas. Guru juga perlu mampu membangun kolaborasi dan ikut mencari solusi atas persoalan di lingkungan sekitar.
“Melalui proyek ini, kami belajar bahwa kepemimpinan guru bukan hanya di dalam kelas, butuh kolaborasi nyata untuk membawa perubahan berkelanjutan bagi sekolah maupun lingkungan masyarakat,” kata Ella.
Tim menyadari satu proyek tidak akan langsung menyelesaikan persoalan limbah di Wringinanom. Namun, PeelPop mereka harapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk melihat limbah sebagai sumber peluang.
Dari kulit jeruk yang sebelumnya terbuang, mahasiswa UMM mencoba membangun produk yang punya nilai guna, nilai ekonomi, sekaligus membawa pesan tentang kepedulian lingkungan.


