EDUCARE.CO.ID – Bagi sebagian murid, gempa bumi dan cuaca ekstrem mungkin terdengar seperti materi yang hanya muncul dalam buku pelajaran.
Namun, murid SNT 6 Bone Bolango mendapat pengalaman berbeda. Mereka mempelajari bencana dengan turun langsung mencari informasi, membaca data, berdiskusi, memanfaatkan teknologi, hingga menyusun langkah mitigasi yang bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut hadir melalui proyek “Eksplorasi Literasi dan Simulasi Mitigasi Bencana”.
Proyek ini mengambil persoalan yang dekat dengan masyarakat Gorontalo, terutama potensi gempa bumi dan cuaca ekstrem. Guru kemudian mengajak murid menghubungkan fenomena tersebut dengan berbagai bidang ilmu melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Berdasarkan sumber SNT 6 Bone Bolango, guru SNT 6 Bone Bolango Firda Aulia Shalihah mengatakan STEM membantu murid melihat persoalan secara lebih menyeluruh.
“Bagi kami, Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bukan sekadar singkatan, melainkan kacamata bagi murid untuk melihat dunia secara utuh,” ujar Firda.

Satu Proyek, Banyak Mata Pelajaran
Pendekatan STEM membuat murid tidak mempelajari setiap mata pelajaran secara terpisah.
Geografi menjadi pintu masuk untuk mempelajari iklim dan anomali cuaca. Murid kemudian menggunakan Matematika untuk mengolah data curah hujan dan skala gempa dari BMKG.
Pada bagian lain, mereka memanfaatkan teknologi dan prinsip engineering untuk menyusun alur mitigasi. Murid juga membuat simulasi digital serta mind map interaktif.
Sementara itu, Bahasa Indonesia mengambil peran ketika murid menyampaikan hasil riset melalui resensi buku yang kritis.
Dengan pola tersebut, satu fenomena nyata dapat menjadi bahan belajar dari berbagai sudut pandang.
Murid Keluar Kelas untuk Cari Data
Proses belajar tidak berhenti di ruang kelas.
Murid mengunjungi Perpustakaan Kantor Bahasa untuk mencari sekaligus menyeleksi sumber informasi. Mereka kemudian bertemu dan berdiskusi langsung dengan narasumber dari BMKG.
Pertemuan tersebut memberi kesempatan bagi murid untuk menguji informasi yang sudah mereka temukan sebelumnya.
Bagi Mohammad Daffa Saputra Gobel, murid kelas X B, pengalaman itu mengubah pandangannya terhadap pembelajaran tentang bencana.
“Awalnya saya pikir belajar tentang gempa dan cuaca ya cuma mencatat materi di kelas. Ternyata seru banget! Kami diajak ke perpustakaan besar untuk riset, lalu yang paling keren, kami bisa ngobrol langsung sama bapak-ibu dari BMKG,” kata Daffa.
Materi yang dekat dengan kondisi Gorontalo juga membuat pembelajaran terasa lebih relevan.
“Karena kebetulan di Gorontalo lagi sering kerasa gempa, rasanya pelajaran ini relate banget. Kami belajar hal yang memang lagi kami alami sendiri,” ujarnya.
Tantangan: Menggabungkan Data hingga Mind Map
Proyek lintas mata pelajaran tentu tidak selalu berjalan mulus.
Murid harus mengolah data, menulis resensi, sekaligus mengemas informasi tersebut dalam bentuk desain digital yang mudah dipahami.
Daffa mengaku bagian tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar.
“Tantangannya itu waktu kami harus menggabungkan banyak ilmu ke dalam satu tugas. Kami harus berpikir, ‘Gimana ya caranya masukin data angka curah hujan dan gempa ke dalam tulisan resensi buku, terus dibikin jadi desain mind map digital yang gampang dibaca orang?’” tuturnya.
Kerja kelompok juga menghadirkan perbedaan pendapat. Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar.
Daffa dan teman-temannya belajar membagi tugas, mendengarkan pendapat anggota kelompok, lalu menyatukan ide untuk menyelesaikan proyek.
“Kami di kelompok sempat beda pendapat, tapi dari situ kami justru belajar banget cara bagi tugas dan menyatukan ide supaya proyeknya berhasil,” katanya.
Guru Tidak Hanya Menilai dari Ujian
Firda melihat proses tersebut sebagai bagian penting dari pembelajaran.
Karena itu, ia tidak hanya menggunakan tes tertulis. Guru juga menerapkan asesmen autentik untuk melihat kemampuan murid secara lebih menyeluruh.
Guru mengamati keberanian murid saat bertanya, kemampuan menganalisis informasi, ketepatan penggunaan data, hingga kualitas karya akhir.
“Kami mengobservasi pancaran antusiasme dan keberanian mereka saat melontarkan pertanyaan kritis kepada pihak BMKG. Kami juga menilai portofolio akhir mereka secara holistik,” jelas Firda.
Menurutnya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya terlihat dari nilai ujian.
Guru juga melihat sejauh mana murid mampu menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang mereka hadapi.
“Kami menilai karya nyata yang bermakna bagi hidup mereka,” imbuh Firda.
Murid Mengaku Kini Lebih Siap Menghadapi Bencana
Proyek tersebut memberikan dampak langsung bagi Daffa.
Ia mengatakan dirinya dan teman-temannya kini lebih memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi gempa atau cuaca ekstrem.
“Sekarang saya dan teman-teman jadi nggak gampang panik. Kami tahu persis langkah mitigasi apa yang harus dilakukan kalau tiba-tiba cuaca ekstrem atau ada gempa,” ungkapnya.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan, proyek tersebut juga memperkenalkan murid pada penggunaan teknologi untuk menyampaikan informasi.
Daffa merasa bangga karena hasil kerja kelompoknya tidak hanya menjadi tugas sekolah.
“Rasanya bangga banget, karena karya kami bukan cuma buat dinilai guru, tapi bisa jadi informasi yang bermanfaat buat orang-orang di sekitar kami,” ujarnya.
Guru Gabungkan Empat Pelajaran dalam Satu Proyek
Dari sisi guru, proyek lintas mata pelajaran juga memiliki tantangan tersendiri.
Koordinasi antar guru dan pengaturan beban tugas menjadi dua hal yang perlu mendapat perhatian.
Firda dan tim kemudian memilih satu proyek bersama dengan satu rubrik penilaian terpadu.
“Alih-alih memberi empat tugas berbeda, kami hanya menugaskan satu proyek besar di akhir. Murid merasa bebannya lebih ringan dan belajarnya jauh lebih bermakna, sementara kami para guru tetap bisa mengambil nilai kompetensi sesuai mata pelajaran masing-masing,” terang Firda.
Model tersebut membuat guru dapat menilai kompetensi dari beberapa mata pelajaran melalui satu pengalaman belajar yang saling terhubung.
STEM Tidak Berhenti pada Teori
Proyek “Eksplorasi Literasi dan Simulasi Mitigasi Bencana” memperlihatkan bagaimana pendekatan STEM dapat membawa pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan murid.
Sains membantu mereka memahami fenomena. Matematika mengajarkan cara membaca data. Teknologi membantu mereka mengolah dan menyampaikan informasi. Engineering mendorong mereka merancang solusi.
Di sisi lain, literasi dan kerja sama kelompok membuat murid belajar menyampaikan gagasan serta mengambil keputusan bersama.
Pada akhirnya, pembelajaran tidak hanya menghasilkan tugas atau nilai.
Murid juga belajar mengenali risiko di lingkungan sekitar dan memahami langkah yang perlu mereka ambil ketika bencana terjadi.
Dari rasa takut terhadap gempa dan cuaca ekstrem, mereka perlahan membangun pengetahuan, keberanian, dan kesiapsiagaan untuk menghadapi situasi nyata.

