Sering Makan Telur Setiap Hari? Ini yang Perlu Kamu Tahu soal Kolesterol

Must read

EDUCARE.CO.ID – Telur sering menjadi pilihan praktis untuk memenuhi kebutuhan protein harian. Harganya relatif terjangkau dan cara mengolahnya juga beragam.

Selain protein, telur mengandung sejumlah nutrisi penting. Beberapa di antaranya yaitu vitamin D, vitamin B12, selenium, dan asam amino esensial.

Namun, kandungan kolesterol pada telur membuat sebagian orang ragu untuk mengonsumsinya setiap hari. Kekhawatiran tersebut terutama muncul karena kuning telur mengandung kolesterol makanan.

Lantas, apakah makan telur setiap hari benar-benar dapat meningkatkan kolesterol darah?

Kolesterol pada Telur Tidak Selalu Berdampak Sama

Kuning telur mengandung sebagian besar kolesterol dalam sebutir telur. Satu telur utuh berukuran besar memiliki sekitar 200 miligram kolesterol makanan.

Meski angka tersebut cukup tinggi, tubuh setiap orang merespons kolesterol makanan secara berbeda. Faktor genetik dapat memengaruhi respons tersebut.

Pola makan juga memiliki peran penting. Aktivitas fisik dan kondisi kesehatan seseorang turut memengaruhi kadar kolesterol dalam darah.

Karena itu, seseorang tidak dapat menilai risiko kesehatan hanya dari jumlah kolesterol dalam telur. Pola makan secara keseluruhan juga perlu mendapat perhatian.

Tinjauan penelitian yang terbit pada 2025 menunjukkan hasil yang masih beragam. Para peneliti menemukan perbedaan hasil dalam melihat hubungan konsumsi telur dengan berbagai dampak kesehatan.

Tinjauan tersebut juga menilai kualitas bukti yang tersedia masih rendah. Hingga saat ini, bukti yang ada belum cukup untuk menganjurkan masyarakat sehat menghindari telur sebagai bagian dari pola makan sehat.

Orang Sehat Masih Bisa Makan Telur Setiap Hari

Bagi orang sehat, telur masih dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari. Konsumsinya tentu perlu menyesuaikan kebutuhan tubuh dan pola makan secara keseluruhan.

Penelitian yang dikutip RRI menunjukkan bahwa konsumsi sekitar satu telur per hari tidak memberikan perubahan signifikan pada kadar kolesterol darah orang sehat.

Beberapa penelitian lain juga mengamati konsumsi hingga tiga telur per hari. Hasilnya tidak menunjukkan perubahan besar pada kadar kolesterol dalam kelompok yang diteliti.

Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti setiap orang dapat mengonsumsi telur dalam jumlah yang sama. Kondisi kesehatan dan pola makan setiap individu berbeda.

Orang dengan kadar LDL tinggi perlu lebih memperhatikan pilihan makanan. Hal yang sama berlaku bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Dalam kondisi tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada telur. Jumlah lemak jenuh dan kolesterol dari seluruh makanan juga perlu diperhitungkan.

Jangan Hanya Melihat Telur

Kebiasaan makan sehari-hari memiliki pengaruh yang lebih luas daripada satu jenis makanan. Karena itu, menilai telur hanya dari kandungan kolesterolnya dapat memberikan gambaran yang tidak lengkap.

Menu harian sebaiknya mencakup berbagai kelompok makanan. Sayuran, buah, biji-bijian, sumber protein lain, dan makanan kaya serat dapat melengkapi kebutuhan nutrisi.

Cara memasak telur juga ikut menentukan komposisi makanan. Telur rebus tentu berbeda dengan telur yang dimasak menggunakan banyak bahan tinggi lemak jenuh.

Contoh lainnya, seseorang dapat mengonsumsi telur bersama sayuran dan sumber serat. Pola tersebut tentu berbeda dari menu yang juga mengandung banyak makanan tinggi lemak jenuh.

Dengan kata lain, konteks menu harian perlu menjadi perhatian ketika seseorang menilai konsumsi telur.

Jadi, Bolehkah Makan Telur Setiap Hari?

Bagi kebanyakan orang sehat, telur masih dapat menjadi sumber protein yang praktis dalam pola makan seimbang. Konsumsi telur setiap hari juga tidak otomatis membuat kadar kolesterol darah meningkat.

Meski demikian, kebutuhan setiap orang tidak sama. Orang dengan kolesterol tinggi atau kondisi kesehatan tertentu perlu menyesuaikan pola makan dengan kondisi masing-masing.

Jumlah telur bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kualitas makanan secara keseluruhan, asupan lemak jenuh, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga memiliki peran.

Jadi, tidak perlu langsung menghindari telur hanya karena kandungan kolesterolnya. Yang lebih penting, tempatkan telur sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

 

Penulis: Andini Namira Saskirana

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article