Robotika FILKOM UB Sabet Juara 1 dan Best Teamwork di ERIC UNJ 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dua tim mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) tampil gemilang dalam International Electronic and Robotics Innovation Competition (ERIC) 2026. Tim Baby Atyabrama dan Tim Atya Balap sama-sama membawa pulang penghargaan dari kompetisi robotika internasional tersebut.

Tim Baby Atyabrama berhasil merebut Juara 1 kategori Drone Innovation. Sementara itu, Tim Atya Balap meraih penghargaan Best Teamwork pada kategori Line Follower.

Kompetisi ERIC 2026 berlangsung pada 22–24 September 2026 di Kampus A Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua ERIC dengan jumlah peserta mencapai 683 tim dari 10 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Uganda.

Kedua tim tersebut berada di bawah organisasi mahasiswa FILKOM ROBOTIK dan membawa inovasi yang berbeda pada kompetisi tahun ini.

VARIO Antar Tim Baby Atyabrama Jadi Juara

Tim Baby Atyabrama tampil di kategori Drone Innovation dengan membawa VARIO (Variable-Rate Precision Spray Drone).

Tim ini beranggotakan Weaver Simon dari Sistem Informasi sebagai ketua sekaligus penanggung jawab elektrikal, Fristian Boas Nathaniel dari Teknik Komputer sebagai programmer, serta Damar Dydan Aryapandya Suprapto dari Teknik Komputer yang menangani desain mekanik.

VARIO menawarkan pendekatan berbeda dalam penyemprotan pertanian. Drone ini dirancang untuk mengatasi pemborosan cairan yang dapat terjadi ketika petani menggunakan metode flat spraying secara merata tanpa mempertimbangkan kondisi tanaman.

Sistem VARIO mampu menyesuaikan dosis semprotan berdasarkan kondisi kanopi tanaman.

Untuk menjalankan fungsi tersebut, tim menggabungkan beberapa komponen utama. Sistem menggunakan flight controller Pixhawk dan GPS M8N untuk mendukung navigasi otomatis. Sementara itu, ESP32 menjalankan fungsi pengambilan keputusan sistem.

VARIO juga mengandalkan sensor Mateksys Optical Flow. Sensor tersebut membaca perubahan pergerakan kanopi tanaman secara real-time setiap 200 milidetik.

Hasil pembacaan sensor kemudian menentukan dosis semprotan. Tanaman yang lebat mendapat dosis penuh. Tanaman yang lebih jarang menerima dosis lebih rendah. Sementara itu, lahan kosong dan pematang sawah tidak mendapat semprotan.

Keterbatasan Komponen Tak Halangi Tim Raih Podium

Perjalanan Tim Baby Atyabrama menuju podium tidak berjalan mulus.

Selama masa persiapan, keterbatasan komponen membuat tim sempat merasa kurang percaya diri. Situasi tersebut semakin terasa ketika mereka tiba di lokasi kompetisi dan melihat perangkat milik sejumlah tim lain yang terlihat lebih lengkap.

Meski begitu, tim tetap mengandalkan penguasaan materi teknis dan konsep VARIO. Mereka kemudian mempresentasikan kemampuan sistem serta efisiensi solusi yang mereka tawarkan.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Pada Kamis (24/9/2026), hari terakhir ERIC 2026, panitia mengumumkan Tim Baby Atyabrama sebagai Juara 1 Drone Innovation.

Ketua Tim Baby Atyabrama, Weaver Simon, menyebut penghargaan tersebut lahir dari kerja keras dan kekompakan seluruh anggota.

“Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan soliditas Tim Baby Atyabrama. Di tengah segala keterbatasan komponen yang kami hadapi di awal, kami fokus memberikan solusi terbaik melalui efisiensi logika sistem VARIO. Kami sangat bersyukur atas pencapaian Juara 1 ini dan berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan hingga memberi dampak nyata bagi sektor pertanian Indonesia,” ujar Weaver.

Bagi tim, kemenangan tersebut juga membawa satu pelajaran penting. Kualitas inovasi tidak hanya bergantung pada kelengkapan perangkat.

Kreativitas, kemampuan menyelesaikan persoalan, kerja sama lintas bidang, serta mental untuk terus bangkit menjadi modal penting dalam menghadapi kompetisi internasional.

Tim Baby Atyabrama Siapkan Pengembangan VARIO

Setelah meraih kemenangan, Tim Baby Atyabrama tidak berhenti pada prototipe yang mereka bawa ke ERIC 2026.

Tim berencana mengembangkan VARIO agar dapat mendukung implementasi komersial. Salah satu pengembangan yang mereka siapkan ialah meningkatkan kapasitas tangki cairan.

Selain itu, tim ingin mengembangkan sistem pencatatan data penerbangan. Data dalam format CSV nantinya dapat terhubung dengan aplikasi yang lebih mudah digunakan.

Melalui aplikasi tersebut, petani diharapkan dapat melihat peta distribusi penyemprotan secara otomatis. Dengan demikian, teknologi VARIO tidak hanya menjadi proyek kompetisi, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang menjadi solusi pertanian presisi.

Atya Balap Raih Best Teamwork

Prestasi FILKOM ROBOTIK berlanjut melalui Tim Atya Balap di kategori Line Follower.

Tim yang dipimpin Farhan Khairullah dari Teknik Komputer tersebut beranggotakan Igor Mecca Mohammed dari Teknik Informatika dan Muhammad Minanur Rohman dari Teknik Komputer.

Atya Balap membawa robot line follower yang mampu mengikuti lintasan secara presisi. Robot memanfaatkan sensor garis berbasis fotodioda atau inframerah untuk membaca jalur.

Mikrokontroler kemudian memproses sinyal sensor tersebut. Sistem selanjutnya mengatur kecepatan motor kanan dan kiri agar robot dapat mengikuti perubahan lintasan secara cepat dan responsif.

Sebelum bertanding, tim melewati sejumlah tahapan pengembangan. Mereka merancang mekanik, menyusun skematik elektronik, membuat algoritma kontrol, lalu melakukan pengujian pada lintasan simulasi.

Robot Sempat Bermasalah Lima Hari Sebelum Kompetisi

Persiapan Tim Atya Balap juga menghadapi kendala. Sekitar lima hari sebelum kompetisi, robot mengalami masalah teknis yang cukup serius.

Situasi tersebut memaksa tim bergerak cepat. Mereka mencari sumber kerusakan, mengganti komponen, kemudian melakukan kalibrasi ulang agar robot kembali bekerja secara optimal.

Tantangan belum berhenti ketika pertandingan berlangsung. Persaingan antartim berjalan ketat di setiap babak.

Namun, pengalaman menghadapi kendala selama persiapan membantu anggota Atya Balap menjaga ketenangan. Mereka mampu beradaptasi dan mengandalkan komunikasi tim ketika menghadapi situasi di arena.

Kerja keras tersebut akhirnya mendapat apresiasi melalui penghargaan Best Teamwork.

Bagi anggota tim, penghargaan itu menjadi bukti bahwa kekompakan dapat menentukan hasil ketika seluruh anggota menghadapi tekanan bersama.

Dosen FILKOM UB Apresiasi Perjuangan Kedua Tim

Dosen pembimbing kedua tim, Rakhmadhany Primananda, S.T., M.Kom., menyampaikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa sejak tahap persiapan hingga kompetisi.

Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya soal hasil akhir. Proses menghadapi kegagalan dan memperbaiki sistem juga menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa.

“Keberhasilan ini bukan hanya tentang menang, tetapi tentang bagaimana kalian terus bangkit dan belajar dari setiap proses yang dilalui, apalagi ketika latihan sempat terjadi kegagalan sistem. Dan ternyata kalian bisa memberikan yang terbaik ketika di final berkat kesigapan dan kekompakan kalian,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan proses panjang yang harus dilalui tim robotika sebelum mencapai podium.

Mahasiswa tidak hanya mengembangkan perangkat. Mereka juga belajar melakukan troubleshooting, membagi tugas, mengambil keputusan, dan bekerja dalam tekanan waktu.

Kepala LAB RES: Ketekunan Jadi Kunci

Ketua Laboratorium Robotika dan Embedded System (LAB RES) FILKOM UB, Wijaya Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., turut mengapresiasi keberhasilan Tim Baby Atyabrama.

Ia menilai prestasi tersebut lahir dari usaha dan ketekunan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Robot yang canggih tidak berasal dari yang pintar atau yang kaya, tetapi dari yang tabah dan tekun serta konsisten walau menghadapi kegagalan ataupun tantangan 1000 kali,” kata Wijaya.

Pesan tersebut juga menjadi gambaran perjalanan kedua tim selama mengikuti ERIC 2026. Mereka harus mengatasi keterbatasan komponen, kerusakan sistem, tekanan pertandingan, hingga persaingan dengan tim dari berbagai negara.

Dua Penghargaan Jadi Modal FILKOM ROBOTIK

Keberhasilan Tim Baby Atyabrama dan Tim Atya Balap memperkuat catatan prestasi FILKOM UB dalam kompetisi robotika internasional.

VARIO menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menggabungkan robotika, sistem tertanam, navigasi, sensor, dan kebutuhan pertanian menjadi satu inovasi.

Sementara itu, Atya Balap membuktikan pentingnya kemampuan teknis dan kerja sama dalam mengembangkan robot yang mampu bernavigasi secara presisi.

Dua penghargaan tersebut juga menjadi pengalaman penting bagi anggota FILKOM ROBOTIK. Mereka mendapat kesempatan menguji kemampuan di hadapan ratusan tim dari berbagai negara.

Ke depan, kedua tim berharap dapat terus mengembangkan riset dan teknologi yang mereka bangun. Capaian di ERIC 2026 pun menjadi pijakan untuk membawa inovasi robotika FILKOM UB ke kompetisi dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article