EDUCARE.CO.ID – Limbah biji alpukat yang selama ini kerap berakhir sebagai sampah menjadi bahan penelitian enam siswa SMA Cahaya Rancamaya, Bogor, Jawa Barat. Mereka mengembangkan ekstrak biji alpukat menjadi bahan dasar biosunscreen ramah lingkungan bernama AvoGuard.
Inovasi tersebut membawa tim AvoGuard meraih Medali Perak (Silver Medal) dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.
Kompetisi berlangsung pada 20–24 September 2026. Tim AvoGuard mengikuti kategori Applied Life Science melalui proyek berjudul “AvoGuard: Development of Sunscreen Based on Avocado Seed Extract as an Environmentally Safe UV Protection Product.”
Penelitian tersebut berangkat dari dua persoalan sekaligus. Pertama, kebutuhan perlindungan kulit dari paparan sinar ultraviolet. Kedua, kebutuhan untuk mengembangkan produk yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.

Biji Alpukat Jadi Bahan Dasar AvoGuard
Tim AvoGuard memanfaatkan biji alpukat (Persea americana Mill.) sebagai bahan penelitian. Mereka memilih bahan tersebut karena mengandung polifenol dan senyawa antioksidan.
Dalam pengembangan AvoGuard, tim memanfaatkan ekstrak biji alpukat sebagai salah satu komponen untuk menghasilkan produk sunscreen.
Kepala SMA Cahaya Rancamaya Sandra Susanto menjelaskan bahwa gagasan tersebut muncul dari persoalan limbah sekaligus kebutuhan perlindungan kulit.
“Gagasan tersebut berangkat dari dua persoalan: kebutuhan manusia akan perlindungan kulit dari paparan sinar ultraviolet, serta kebutuhan mengembangkan produk yang lebih aman bagi lingkungan,” kata Sandra.
Tim kemudian menguji potensi aktivitas fotoprotektif ekstrak tersebut. Mereka juga melihat kandungan antioksidan sebagai salah satu aspek dalam pengembangan produk.
Namun, AvoGuard masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian. Hasil penelitian tersebut belum berarti produk siap digunakan secara luas sebagai pengganti sunscreen komersial.
Tiga Bulan Mengembangkan AvoGuard
Enam siswa mengembangkan AvoGuard selama kurang lebih tiga bulan. Dalam prosesnya, mereka menghadapi sejumlah kendala, terutama saat menentukan komposisi bahan dan menghasilkan ekstrak sesuai target.
Tim tidak berhenti ketika eksperimen menghasilkan hasil yang belum sesuai. Mereka mengevaluasi setiap percobaan dan kembali mempelajari literatur serta jurnal ilmiah.
Enam siswa yang tergabung dalam tim tersebut terdiri dari:
- Azmi Bahruddin Prasetya
- Darrel Zavier El Fatih
- Giandra Hanif Nareswara
- Muhammad Radhisshadiqi
- Xavier Zia Muhammad
- Zaid Nabhan Khairullah
Guru Aris Setiawan mendampingi proses penelitian mereka.
Selama riset berlangsung, siswa menjalankan sejumlah tahapan laboratorium. Mereka memulai dari proses ekstraksi bahan, kemudian membuat formulasi krim dan menguji stabilitas fisiknya.
Tim juga melakukan pengujian aktivitas fotoprotektif dengan mengukur nilai SPF secara in vitro. Selain itu, mereka menjalankan pengujian ekotoksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
Tim Bagi Tugas antara Laboratorium dan Presentasi
Pengembangan AvoGuard tidak hanya membutuhkan kemampuan eksperimen. Tim juga harus mampu menjelaskan hasil penelitian kepada juri.
Karena itu, enam siswa membagi pekerjaan ke dalam dua kelompok fokus.
Kelompok pertama menangani eksperimen laboratorium dan penyusunan karya ilmiah. Sementara itu, kelompok kedua mempersiapkan komunikasi proyek, presentasi, serta kebutuhan logistik.
Pembagian tersebut membantu setiap anggota fokus pada tugas masing-masing. Di sisi lain, seluruh anggota tetap perlu memahami keseluruhan proyek agar mampu menjawab pertanyaan juri.
Proses itu juga melatih siswa menggabungkan kemampuan penelitian dengan komunikasi ilmiah.
Bersaing dengan 517 Tim dari 12 Negara
WICE 2026 mempertemukan 517 tim dari 12 negara. Sebanyak 243 tim mengikuti kompetisi secara langsung di Malaysia, sedangkan 274 tim mengikuti ajang secara daring.
Peserta datang dari berbagai negara. Selain Indonesia dan Malaysia, kompetisi juga melibatkan tim dari Hong Kong, Thailand, Meksiko, Korea Selatan, Belarus, Tiongkok, Kanada, Uzbekistan, Vietnam, hingga Bangladesh.
Penjurian berlangsung secara langsung di area stan pameran. Para peserta harus mempresentasikan karya sekaligus menjelaskan dasar ilmiah dari proyek mereka kepada juri internasional.
Dalam situasi tersebut, tim AvoGuard mempertahankan gagasan mereka melalui data penelitian dan hasil pengujian yang telah dilakukan selama proses pengembangan.
Medali Perak Jadi Apresiasi atas Proses Riset
Perjalanan AvoGuard akhirnya membawa enam siswa SMA Cahaya Rancamaya meraih Medali Perak dalam kategori Applied Life Science.
Bagi sekolah, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang penghargaan. Proses penelitian menjadi bagian penting dalam pembelajaran siswa.
Sandra menilai pengalaman tersebut membantu siswa memahami bagaimana sebuah penelitian berkembang dari persoalan sederhana hingga menjadi gagasan yang dapat mereka pertanggungjawabkan.
“Bagi kami, hal yang paling penting bukan hanya medalinya, melainkan proses belajar yang dilalui para siswa. Mereka belajar menemukan persoalan, membaca penelitian, melakukan eksperimen, menghadapi kegagalan, hingga mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan juri internasional,” ujar Sandra.
Menurutnya, pengalaman tersebut sejalan dengan arah pengembangan SMA Cahaya Rancamaya sebagai salah satu SMA Unggul Garuda Transformasi. Sekolah mendorong penguatan budaya akademik dan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata.
Dari Limbah Lokal Menjadi Proyek Riset Siswa
AvoGuard menunjukkan bagaimana siswa dapat menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber ide penelitian. Biji alpukat yang biasanya tidak digunakan kembali menjadi objek kajian dalam pengembangan produk biosunscreen.
Selain memperkenalkan pemanfaatan biomassa, proyek ini juga memberi pengalaman kepada siswa untuk menjalankan penelitian secara sistematis.
Mereka belajar mencari referensi, menyusun formulasi, melakukan pengujian, mengevaluasi hasil, hingga mempresentasikan penelitian di hadapan juri internasional.
Pada akhirnya, Medali Perak WICE 2026 menjadi salah satu capaian dari proses tersebut. Lebih jauh, AvoGuard memperlihatkan bagaimana pembelajaran berbasis riset dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan ilmiah sekaligus mencari solusi dari persoalan di sekitar mereka.


