EDUCARE.CO.ID – Tulang ikan tongkol tidak hanya berakhir sebagai limbah. Bahan tersebut kini menjadi bagian dari inovasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (FK UPR), Kalimantan Tengah.
Mahasiswa bernama Dzulfikar Fatih mengembangkan tulang ikan tongkol sebagai bahan dasar hidroksiapatit alami. Ia kemudian mengarahkannya untuk pengembangan material komposit tambalan gigi.
Gagasan tersebut membawa Dzulfikar meraih Juara II (Second Place) The 12th UTU Awards International 2026. Universitas Teuku Umar (UTU) menggelar kompetisi tersebut di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, pada 23 September 2026.
Dzulfikar membawa karya berjudul “ThunnoDent: Valorisasi Biomassa Tulang Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) menjadi Material Komposit Tambalan Gigi Berbasis Hidroksiapatit Alami.”
Dari Tulang Ikan Tongkol Menjadi Hidroksiapatit
Lewat ThunnoDent, Dzulfikar memanfaatkan biomassa tulang ikan tongkol. Ia mengolah bahan tersebut untuk menghasilkan hidroksiapatit alami.
Selanjutnya, ia mengembangkan material itu sebagai bagian dari komposit untuk kebutuhan bahan tambalan gigi.
Gagasan tersebut menggabungkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan inovasi di bidang kesehatan. Selain itu, pendekatan tersebut membuka peluang pemanfaatan biomassa yang sebelumnya hanya menjadi sisa pengolahan ikan.
Karena itu, ThunnoDent tidak hanya membawa aspek kesehatan. Inovasi ini juga mengangkat isu pemanfaatan bahan lokal dan pengembangan material.
ThunnoDent Bersaing dengan 578 Proposal
Perjalanan Dzulfikar dalam kompetisi internasional tersebut tidak mudah. Ia harus bersaing dengan ratusan proposal dari berbagai perguruan tinggi.
The 12th UTU Awards International 2026 mencatat 578 proposal dari 78 perguruan tinggi. Peserta berasal dari Indonesia dan sejumlah negara lain.
Beberapa di antaranya datang dari Taiwan, Kenya, Malaysia, dan Rwanda.
Di tengah persaingan tersebut, ThunnoDent berhasil meraih posisi kedua.
Capaian ini memperlihatkan ruang yang terbuka bagi mahasiswa kedokteran untuk mengembangkan inovasi lintas bidang. Ilmu kesehatan dapat bertemu dengan teknologi material dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Dua Dosen FK UPR Dampingi Dzulfikar
Dalam mengembangkan ThunnoDent, Dzulfikar mendapat bimbingan dari dua dosen FK UPR.
Mereka adalah Drg. Agnes Frethernety, M.Biomed dan Dr. Apt. Maulitha Indrisari, S.Si., M.Si.
Keduanya mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi internasional.
Melalui proses tersebut, Dzulfikar tidak hanya mengembangkan ide. Ia juga belajar menyusun karya, mengolah gagasan, serta menjelaskan inovasinya dalam forum kompetisi.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa. Selain kemampuan akademik, ia juga perlu membangun kemampuan komunikasi dan presentasi.
FK UPR Apresiasi Prestasi Dzulfikar
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK UPR, dr. Ni Nyoman Sri Yuliani, Sp.GK., AIFO-K, mengapresiasi capaian Dzulfikar.
Menurut Sri, prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa FK UPR dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi. Mereka juga berani membawa karya ke kompetisi tingkat internasional.
“Pencapaian ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, kreativitas, dan keberanian untuk berkompetisi di tingkat internasional, mahasiswa FK UPR mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya dan membawa nama baik fakultas serta Universitas Palangka Raya,” ujar Sri.
Selain memberi apresiasi kepada Dzulfikar, Sri juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing. Ia menilai pendampingan dosen turut mendukung proses pengembangan ThunnoDent.
Sri berharap capaian tersebut mendorong mahasiswa FK UPR untuk terus menghasilkan karya. Ia juga ingin mahasiswa lebih aktif mengikuti kompetisi nasional maupun internasional.
Angkat Potensi Biomassa Lokal
ThunnoDent berangkat dari bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dzulfikar kemudian mengolahnya menjadi gagasan penelitian di bidang kesehatan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya mahasiswa melihat potensi di lingkungan sekitar. Masalah dan bahan yang sering dianggap sederhana dapat menjadi titik awal penelitian.
Tulang ikan tongkol mengandung mineral yang dapat menjadi bahan kajian untuk menghasilkan hidroksiapatit alami. Selanjutnya, peneliti dapat mengembangkan material tersebut untuk berbagai kebutuhan.
Dalam konteks ThunnoDent, Dzulfikar mengarahkannya pada pengembangan komposit untuk bahan tambalan gigi.
Namun, material hasil penelitian belum otomatis siap untuk penggunaan klinis. Pengembangan menuju tahap tersebut membutuhkan penelitian lanjutan.
Peneliti juga perlu melakukan karakterisasi material dan pengujian keamanan. Selain itu, penggunaan untuk kebutuhan klinis harus mengikuti tahapan regulasi yang berlaku.
Prestasi Tambah Capaian Mahasiswa FK UPR
Raihan Juara II dalam The 12th UTU Awards International 2026 menambah deretan prestasi mahasiswa FK UPR.
Di sisi lain, ThunnoDent membawa pesan tentang pentingnya inovasi berbasis sumber daya lokal.
Dzulfikar memadukan pengetahuan kesehatan dengan riset material. Ia juga mengangkat potensi biomassa yang berasal dari lingkungan sekitar.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan gagasan dari berbagai persoalan nyata. Selanjutnya, mereka dapat mengolah gagasan itu melalui riset dan pendampingan akademik.
Pada akhirnya, capaian Dzulfikar menjadi salah satu contoh kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan inovasi kesehatan. Prestasi tersebut sekaligus membawa nama FK UPR dan Universitas Palangka Raya ke panggung kompetisi internasional.

