AI dan Coding Masuk Sekolah, Tantangan Guru dan Arah Baru Pembelajaran

Must read

EDUCARE.CO.ID – Artificial Intelligence (AI) dan coding mulai mengubah cara sekolah mengembangkan pembelajaran. Teknologi kini tidak hanya hadir sebagai alat bantu, tetapi juga membuka cara baru bagi siswa untuk belajar dan memecahkan masalah.

Kemampuan berpikir komputasional, logika, kreativitas, analisis data, dan pemrograman semakin penting bagi peserta didik. Karena itu, sekolah perlu mengenalkan teknologi sejak pendidikan dasar dan menengah.

Namun, penggunaan teknologi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat. Sekolah juga perlu memastikan teknologi benar-benar membantu siswa memahami materi dan mengembangkan keterampilan.

Koding dan AI Dorong Cara Belajar Baru

Kemendikdasmen mengembangkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk memperkuat kompetensi siswa. Materinya mencakup berpikir komputasional, algoritma, analisis data, pemrograman, serta etika penggunaan AI.

Pendekatan tersebut juga mengajak siswa memahami risiko teknologi. Mereka perlu mengenali bias, halusinasi AI, hak cipta, perlindungan data pribadi, dan ketergantungan terhadap teknologi.

Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar menggunakan AI. Mereka juga belajar menilai informasi dan mengambil keputusan secara lebih kritis.

Pada jenjang tertentu, pembelajaran dapat mengajak siswa membuat produk digital. Siswa juga dapat mengolah data dan menyusun solusi berdasarkan persoalan yang mereka temui.

Guru Perlu Kuasai Teknologi dan Pedagogi

Perubahan tersebut membawa tantangan baru bagi guru. Pendidik perlu memahami teknologi sekaligus cara menggunakannya dalam proses belajar.

Kemendikdasmen memperluas akses pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial bagi guru melalui Ruang GTK. Program tersebut memberi kesempatan kepada guru untuk mempelajari materi secara lebih fleksibel.

Pada September 2026, Kemendikdasmen juga memperluas Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Program tersebut menyasar guru, kepala sekolah, pengawas, serta pengelola pendidikan di berbagai daerah.

Pelatihan ini menunjukkan satu hal penting. Transformasi digital membutuhkan guru yang terus belajar.

Guru tidak harus menjadi programmer profesional. Namun, mereka perlu memahami konsep dasar teknologi dan mampu memilih penggunaannya sesuai tujuan pembelajaran.

AI Harus Membantu, Bukan Menggantikan Proses Berpikir

Penggunaan AI di sekolah juga membutuhkan batas yang jelas. Teknologi sebaiknya membantu siswa berpikir, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir mereka.

Karena itu, guru perlu merancang aktivitas yang tetap mendorong siswa melakukan analisis. Siswa juga perlu menjelaskan alasan di balik jawaban yang mereka hasilkan.

Pendekatan tersebut penting untuk mencegah cognitive offloading yang berlebihan. Siswa tetap perlu membangun kemampuan bernalar dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Program pelatihan teknis Kemendikdasmen juga menekankan penggunaan AI sebagai alat bantu berpikir. Materinya mencakup computational thinking, kreativitas, etika AI, perlindungan data, pencegahan bias, dan pembelajaran inklusif.

Kreativitas Jadi Kompetensi Penting

AI dan coding juga dapat membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas.

OECD melalui PISA 2022 mendefinisikan creative thinking sebagai kemampuan menghasilkan ide yang beragam dan orisinal. Siswa juga perlu mengevaluasi serta memperbaiki ide tersebut.

Data PISA 2022 menunjukkan siswa Indonesia relatif lebih kuat pada tugas yang meminta mereka mengevaluasi dan memperbaiki ide. Namun, siswa masih menghadapi tantangan lebih besar pada tugas yang menuntut kemampuan menghasilkan ide yang beragam.

Karena itu, pembelajaran berbasis teknologi dapat menjadi salah satu ruang untuk melatih kemampuan tersebut.

Guru dapat memberikan persoalan terbuka. Selanjutnya, siswa mencari beberapa kemungkinan solusi, menguji hasilnya, lalu memperbaikinya.

Sekolah Perlu Tunjukkan Bukti Inovasi

Perubahan pembelajaran juga terlihat dalam Acer Smart School Awards (ASSA) 2026.

Acer menggelar ASSA 2026 untuk mengapresiasi sekolah dan guru yang mengembangkan inovasi pendidikan melalui teknologi, AI, dan praktik berkelanjutan. Tahun ini, kompetisi tersebut memberi perhatian lebih besar pada penerapan AI dan coding.

Pendekatan ASSA 2026 menekankan bukti nyata. Sekolah dan guru perlu menunjukkan bagaimana mereka menerapkan teknologi dalam pembelajaran.

Bagi kategori Guru Kreatif, peserta perlu menunjukkan masalah yang ingin mereka selesaikan. Mereka juga perlu menjelaskan desain pembelajaran, karya siswa, penggunaan AI atau coding, serta dampak inovasinya.

Dengan pola tersebut, ide saja tidak cukup. Guru perlu menunjukkan hubungan antara inovasi, proses belajar, karya siswa, dan hasil yang muncul.

ASSA 2026 Punya Dua Kategori Utama

ASSA 2026 menyediakan dua kategori utama. Keduanya menyasar kebutuhan yang berbeda.

School of the Year Award berfokus pada ekosistem sekolah. Penilaian mencakup kepemimpinan, pembelajaran mendalam, budaya AI dan coding, inovasi siswa, serta keberlanjutan program.

Sementara itu, Guru Kreatif Award berfokus pada inovasi yang guru kembangkan dalam pembelajaran.

Program tersebut terbuka bagi sekolah, madrasah, dan guru di berbagai jenjang. Peserta dapat berasal dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga SMK/MAK.

ASSA 2026 juga menyediakan rangkaian pembekalan melalui Acer Smart School Academy. Materinya mencakup design thinking, computational thinking, pemrograman, analisis data, simulasi, AI, dan machine learning.

Innovation Arena Uji Kemampuan Peserta

ASSA 2026 juga menghadirkan Acer Innovation Arena pada tahap akhir kompetisi.

Dalam sesi tersebut, finalis menghadapi persoalan pendidikan secara langsung. Mereka perlu memahami masalah, menyusun solusi, membuat prototipe, menguji hasil, lalu mempresentasikannya kepada juri.

Tahapan tersebut terdiri dari Challenge, Think, Build, Test, dan Pitch. Peserta tidak hanya menunjukkan hasil akhir, tetapi juga proses berpikir selama menyelesaikan tantangan.

Pendekatan ini memperlihatkan arah baru pemanfaatan teknologi di sekolah. Guru dan siswa perlu memahami teknologi sekaligus mampu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Transformasi Digital Butuh Praktik Nyata

AI dan coding menawarkan peluang besar bagi dunia pendidikan. Namun, teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik.

Sekolah perlu melihat kebutuhan siswa terlebih dahulu. Setelah itu, guru dapat memilih teknologi yang paling sesuai dengan tujuan belajar.

Pembelajaran juga perlu memberi ruang bagi siswa untuk mencoba, membuat kesalahan, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki solusi.

Dengan cara tersebut, AI dan coding dapat menjadi bagian dari proses belajar yang bermakna. Siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga belajar menciptakan dan mengembangkan solusi.

Pada akhirnya, transformasi pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar perangkat digital. Sekolah membutuhkan guru yang siap belajar, desain pembelajaran yang tepat, serta budaya yang mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif.

AI dan coding pun dapat mengambil peran sebagai alat untuk memperkuat proses tersebut. Yang paling penting, sekolah perlu menunjukkan dampak nyata teknologi terhadap pengalaman dan kemampuan belajar siswa.

 

Penulis: Meilia Dewi Pertiwi

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article