Riset Mahasiswa Vokasi UNAIR Ungkap Potensi 2 Titik Akupuntur untuk Nyeri Menstruasi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Nyeri haid atau primary dysmenorrhea dapat mengganggu aktivitas perempuan usia reproduksi. Rasa kram pada bagian bawah perut bahkan bisa membuat aktivitas belajar, bekerja, hingga rutinitas harian terasa tidak nyaman.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meneliti pilihan terapi nonfarmakologis untuk membantu mengurangi nyeri haid.

Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengobat Tradisional Fakultas Vokasi UNAIR, Tarisha Shintya Sari, mengkaji penggunaan terapi akupuntur pada dua titik, yaitu CV 4 Guanyuan dan SP 8 Diji.

Berdasarkan rilis Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), penelitian tersebut menunjukkan penurunan intensitas nyeri setelah responden menjalani terapi akupuntur pada kedua titik tersebut.

Nyeri Haid Berkaitan dengan Kontraksi Rahim

Primary dysmenorrhea umumnya muncul tanpa penyakit lain yang mendasari. Kondisi ini dapat menimbulkan kram atau nyeri pada bagian bawah perut ketika menstruasi berlangsung.

Salah satu mekanisme yang berkaitan dengan nyeri tersebut melibatkan peningkatan prostaglandin. Senyawa ini dapat memicu kontraksi rahim dan menimbulkan rasa nyeri.

Nyeri yang muncul kemudian dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, sejumlah pendekatan dapat digunakan untuk membantu mengelola keluhan tersebut.

Penelitian Gunakan Titik Guanyuan dan Diji

Tarisha memilih titik CV 4 Guanyuan dan SP 8 Diji dalam penelitian tersebut.

Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), nyeri menstruasi dapat berkaitan dengan gangguan aliran Qi dan darah atau Qi and Blood Stagnation.

Konsep tersebut menjadi dasar pemilihan kedua titik akupuntur. Stimulasi pada Guanyuan dan Diji dipercaya dapat membantu memperlancar aliran Qi dan darah serta mengurangi stagnasi yang berkaitan dengan rasa nyeri.

Penelitian ini kemudian menguji perubahan intensitas nyeri setelah responden menjalani intervensi.

Peneliti Bandingkan Kondisi Sebelum dan Sesudah Terapi

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-test dan post-test serta kelompok kontrol.

Responden terdiri atas perempuan yang mengalami primary dysmenorrhea dan memenuhi kriteria penelitian.

Peneliti mengukur tingkat nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Pengukuran dilakukan sebelum terapi dan setelah seluruh rangkaian intervensi selesai.

Kelompok perlakuan menerima terapi akupuntur pada titik Guanyuan dan Diji sesuai prosedur penelitian. Sementara itu, kelompok kontrol menjadi pembanding dalam analisis penelitian.

Peneliti juga mengidentifikasi Traditional Chinese Medicine Constitution (TCMC) pada responden. Langkah tersebut membantu peneliti melihat pola konstitusi yang paling banyak muncul pada peserta penelitian.

Hasil Penelitian Tunjukkan Penurunan Nyeri

Hasil penelitian menunjukkan penurunan intensitas nyeri setelah responden menerima terapi akupuntur pada titik Guanyuan dan Diji.

Rata-rata tingkat nyeri setelah intervensi lebih rendah daripada kondisi sebelum terapi.

Peneliti kemudian menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan tingkat nyeri sebelum dan sesudah terapi.

Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Temuan tersebut menunjukkan perbedaan tingkat nyeri yang bermakna secara statistik antara sebelum dan sesudah terapi pada data penelitian.

Namun, hasil ini tetap perlu dipahami dalam konteks desain dan jumlah responden penelitian. Penelitian lanjutan dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai efektivitas terapi tersebut.

Stagnasi Qi dan Darah Dominan pada Responden

Peneliti juga menemukan pola stagnasi Qi dan darah sebagai konstitusi TCM yang paling banyak muncul pada responden.

Temuan tersebut sejalan dengan kerangka teori TCM yang menghubungkan gangguan aliran Qi dan darah dengan munculnya nyeri menstruasi.

Dalam konteks penelitian ini, hasil tersebut menjadi salah satu dasar yang mendukung penggunaan titik Guanyuan dan Diji.

Peneliti melihat stimulasi kedua titik sebagai pendekatan yang dapat membantu mengatasi gangguan aliran tersebut sesuai perspektif TCM.

Akupuntur Jadi Pilihan Nonfarmakologis

Hasil penelitian Tarisha menambah bukti penelitian mengenai penggunaan akupuntur untuk membantu mengelola nyeri haid primer.

Pendekatan ini menarik perhatian karena menawarkan metode nonfarmakologis. Artinya, terapi tidak menggunakan obat sebagai intervensi utama.

Meski begitu, hasil penelitian belum berarti akupuntur dapat menggantikan seluruh pilihan pengobatan untuk nyeri haid.

Penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing individu dan dilakukan oleh tenaga yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.

Riset Dorong Pengobatan Tradisional Berbasis Bukti

Penelitian Tarisha juga menunjukkan upaya mahasiswa UNAIR mengembangkan pengobatan tradisional dengan pendekatan penelitian ilmiah.

Ke depan, hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi dalam pengembangan terapi akupuntur untuk primary dysmenorrhea.

Riset lanjutan juga penting untuk memperkuat bukti mengenai efektivitas, keamanan, serta penerapan terapi tersebut pada kelompok pasien yang lebih luas.

Pada akhirnya, pengembangan evidence-based traditional medicine dapat membantu mempertemukan pengetahuan pengobatan tradisional dengan pendekatan penelitian modern.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article