EDUCARE.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa banyak siswa di Kalimantan Barat menjalani pembelajaran secara daring.
Di tengah keterbatasan itu, seorang siswi SMK justru menemukan cara untuk tetap berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Suci, siswi SMKN 5 Pontianak jurusan Busana, memanfaatkan waktu belajar dari rumah untuk membuat masker kain bagi warga di Desa Kuala II, Kabupaten Kubu Raya.
Bersama temannya, Citra, ia mengolah sisa bahan produksi pakaian menjadi masker yang kemudian dibagikan secara gratis kepada warga yang melintas di sekitar tempat tinggalnya.
Bermula dari Minimnya Bantuan Masker di Desa
Suci mengaku ide ini muncul karena ia melihat distribusi bantuan masker selama musim kabut asap lebih banyak menyasar wilayah perkotaan. Sementara itu, warga di lingkungannya di Kubu Raya belum banyak mendapatkan bantuan serupa.
Kondisi tersebut mendorong Suci menggunakan waktu pembelajaran daring untuk hal yang lebih produktif.
“Pas pelajaran daring, saya memanfaatkan kesempatan untuk membuat masker dan membagikannya kepada warga sekitar,” kata Suci.
Sekaligus Mengasah Keterampilan Menjahit
Selain membantu warga menghadapi dampak kabut asap, kegiatan ini juga menjadi ajang bagi Suci untuk melatih keterampilan menjahit yang ia pelajari di sekolah. Ia memanfaatkan momen membuat masker sebagai latihan praktik langsung dari materi jurusan Busana.
“Jadi, saya juga sambil mengasah kemampuan dan melatih lagi supaya lebih pandai menjahit,” ujar Suci.
Manfaatkan Sisa Kain agar Tak Jadi Limbah
Suci dan Citra menggunakan kain sisa produksi pakaian sebagai bahan utama masker. Kain-kain tersebut sebelumnya berpotensi menjadi limbah, namun keduanya mengolahnya kembali menjadi barang yang bermanfaat.
“Sisa-sisa kainnya kami manfaatkan untuk dibuat menjadi masker,” katanya.
Untuk menyelesaikan satu masker, Suci dan Citra membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit.
Langkah Kecil dengan Dampak Nyata
Inisiatif Suci menunjukkan bahwa keterbatasan akibat bencana kabut asap tidak menghalangi semangat berbagi di tingkat akar rumput. Melalui kreativitas sederhana, ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi siswa lain untuk memanfaatkan keterampilan sekolah bagi kepentingan masyarakat sekitar.
Penulis: Putri Faathiman Niara

