EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mempercepat penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menempatkan pemulihan layanan kesehatan sebagai prioritas utama.
Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk memperkuat koordinasi penanganan krisis. Selain itu, tim manajemen krisis kesehatan dan Emergency Medical Team (EMT) mulai bergerak ke sejumlah wilayah terdampak.
Kemenkes juga menyiapkan Rumah Sakit Lapangan dan berbagai logistik medis. Langkah tersebut bertujuan menjaga akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat selama masa tanggap darurat.
Berdasarkan rilis Kemenkes, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah perlu segera memulihkan fungsi rumah sakit di wilayah terdampak.
“Prioritas utama untuk mengembalikan fungsi layanan di seluruh rumah sakit kabupaten/kota terdampak, untuk menghadapi lonjakan pasien dalam beberapa hari ke depan,” ujar Budi dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Delapan Kabupaten dan Kota Terdampak Gempa
Laporan situasi per 15 Agustus 2026 mencatat dampak gempa pada delapan kabupaten/kota di NTT.
Wilayah tersebut meliputi Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur.
Dari sejumlah wilayah tersebut, Kemenkes memberi perhatian khusus kepada RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng.
Kedua rumah sakit tersebut menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pemerintah pun menyiapkan dukungan medis tambahan untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
RS Lapangan Bergerak ke Nagekeo dan Ruteng
Kemenkes mengirim Rumah Sakit Lapangan ke wilayah yang membutuhkan penguatan layanan. Fasilitas tersebut memiliki kemampuan untuk mendukung tindakan operasi.
Pada 16 Agustus 2026, Emergency Medical Team juga bergerak menuju RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng.
Tim tersebut membawa tenaga dokter spesialis bedah, anestesi, dan emergensi. Kehadiran mereka membantu rumah sakit menangani kebutuhan medis akibat gempa.
“Info sementara lokasi terparah di RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. RS Lapangan lengkap dengan fasilitas operasi, serta Emergency Medical Team yang terdiri dari dokter spesialis bedah, anestesi, dan emergensi sudah bergerak ke dua lokasi tersebut hari ini,” kata Budi.
Rumah Sakit Mobil Dikirim ke Nagekeo
RSUD Nagekeo mengalami kerusakan berat. Karena itu, Kemenkes menyiapkan satu unit Rumah Sakit Mobil untuk wilayah tersebut.
Pengiriman berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026. Fasilitas tersebut memiliki ruang operasi untuk mendukung penanganan pasien selama pemulihan rumah sakit.
Dengan dukungan tersebut, tenaga medis tetap dapat memberikan layanan dasar dan menangani kondisi kegawatdaruratan.
RSUD Borong dan RSUD Komodo Siap Terima Rujukan
Kemenkes juga memperkuat sistem rujukan bagi pasien dari Nagekeo.
RSUD Borong masuk dalam skema rujukan dengan target waktu dua jam. Sementara itu, RSUD Komodo memiliki target waktu rujukan empat jam.
Selain rumah sakit, pemerintah juga memperhatikan kondisi puskesmas. Kemenkes menargetkan puskesmas yang mengalami kerusakan dapat kembali menjalankan layanan dasar dalam waktu maksimal dua minggu.
Layanan tersebut mencakup pemeriksaan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi. Dengan begitu, kebutuhan kesehatan masyarakat tetap dapat terpenuhi selama masa pemulihan.
Sembilan Titik HEOC Perkuat Koordinasi
Untuk mempercepat respons, Kemenkes mengaktifkan sembilan titik HEOC.
Satu titik berada pada tingkat pusat/provinsi. Delapan titik lainnya berada di kabupaten/kota yang terdampak gempa.
HEOC membantu pemerintah memantau perkembangan situasi. Pusat koordinasi tersebut juga mempercepat tindak lanjut terhadap kebutuhan kesehatan di lapangan.
Selain itu, Kemenkes mengirim dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Sikka dan Ende. Dua tim EMT juga memperkuat pelayanan medis di wilayah terdampak.
Logistik Medis Terus Didistribusikan
Kemenkes turut mengirim berbagai kebutuhan medis pada 16 Agustus 2026.
Bantuan tersebut mencakup delapan paket obat dasar dan lima paket Emergency Kit. Pemerintah juga menyiapkan 1.000 sarung tangan steril dan 20.000 sarung tangan nonsteril.
Selain itu, bantuan mencakup 20.000 masker bedah dan 10 oksigen konsentrator. Kemenkes juga mengirim dua tenda pos kesehatan.
Untuk mengantisipasi kebutuhan tambahan, pemerintah menyiagakan delapan tenda kesehatan lainnya.
Kondisi Rumah Sakit Pascagempa
Laporan Kemenkes per 15 Agustus 2026 mencatat 21 rumah sakit terdampak gempa.
Sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi penuh. Kemudian, empat rumah sakit menjalankan layanan secara sebagian. Satu rumah sakit belum dapat beroperasi.
Dari sisi kondisi bangunan, tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat. Enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan. Sementara itu, 12 rumah sakit tidak mengalami kerusakan struktur.
Kondisi Puskesmas
Dampak gempa juga menyentuh layanan puskesmas.
Dari 190 puskesmas terdampak, sebanyak 122 fasilitas masih beroperasi penuh. Sebanyak 49 puskesmas menjalankan layanan sebagian, sedangkan 19 lainnya belum dapat beroperasi.
Data kerusakan mencatat 20 puskesmas rusak berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Sebanyak 116 puskesmas lainnya tidak mengalami kerusakan.
Kemenkes Perkuat Koordinasi Lintas Lembaga
Kemenkes terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, BNPB, dan Basarnas.
Koordinasi tersebut mencakup pemulihan fasilitas kesehatan dan penyediaan tenaga medis. Pemerintah juga memastikan ketersediaan obat, alat kesehatan, serta kebutuhan pendukung lainnya.
Selanjutnya, Kemenkes akan menjalankan pemulihan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pemerintah tetap menjaga layanan dasar sambil memperkuat kapasitas fasilitas kesehatan.
Langkah ini penting untuk menghadapi kemungkinan peningkatan jumlah pasien dalam beberapa hari ke depan. Dengan respons tersebut, masyarakat NTT diharapkan tetap memperoleh layanan kesehatan selama masa tanggap darurat.
Penulis: Putri Faathiman Niara



