EDUCARE.CO.ID – Dua siswa SMAN 28 Jakarta berhasil mengembangkan robot inovatif dari limbah plastik bekas dan membawa karya tersebut hingga ke ajang kompetisi internasional. Inovasi ini menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diubah menjadi teknologi bernilai guna melalui kreativitas dan semangat belajar.
Dua siswa tersebut, Dryantama Sucipto dan Pande Nyoman, aktif dalam kegiatan robotik sekolah dan mengembangkan berbagai proyek berbasis daur ulang. Dalam wawancara mengenai inovasi teknologi ramah lingkungan, keduanya menjelaskan proses pengembangan robot dari bahan bekas yang tidak terpakai.
Berawal dari Pembelajaran Robotika di Sekolah
Ide pembuatan robot daur ulang muncul dari kegiatan belajar robotika yang mereka jalani di SMAN 28 Jakarta. Guru Informatika dan Coding, Muhammad Arif Harahap, mendorong siswa memanfaatkan limbah agar biaya pembuatan robot lebih terjangkau tanpa menurunkan kualitas karya.
Pande Nyoman menjelaskan bahwa tim awalnya menggunakan pipa PVC bekas karena biaya pembuatan robot cukup tinggi.
“Awalnya kami memanfaatkan pipa PVC bekas karena biaya pembuatan robot cukup mahal. Hasilnya justru mampu bersaing pada berbagai kompetisi,” ujar Pande Nyoman.
Robot dari Limbah Plastik Tembus Kompetisi Internasional
Tim robotik kemudian menguji berbagai bahan dan menemukan bahwa rangka PVC memiliki kekuatan yang baik untuk kebutuhan robot sepak bola. Pengalaman tersebut mendorong mereka mengikuti kompetisi robotik di Surabaya dan Bandung.
Usaha mereka membuahkan hasil ketika robot berbahan PVC berhasil meraih juara kedua pada kompetisi robotik internasional di Malaysia. Prestasi tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan inovasi berikutnya.
Kembangkan Robot Pembuat Pestisida Alami
Setelah meraih penghargaan internasional, tim robotik SMAN 28 Jakarta terus melanjutkan riset dan pengembangan. Saat ini mereka merancang robot pembuat pestisida alami menggunakan metode pirolisis.
Melalui proyek baru tersebut, mereka ingin memperluas pemanfaatan limbah tidak hanya sebagai bahan rangka robot, tetapi juga sebagai sumber inovasi yang mendukung pertanian ramah lingkungan.
Tantangan Menjadi Pemicu Kreativitas
Dryantama Sucipto mengakui bahwa tim menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan pengetahuan teknis dan biaya pengembangan. Namun, mereka memilih belajar secara mandiri melalui berbagai sumber dan terus melakukan percobaan.
Menurut Dryantama, keterbatasan justru memacu mereka untuk mencari solusi kreatif dan menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dorong Pelajar Berani Berinovasi dari Limbah
Pande dan Dryantama berharap semakin banyak pelajar berani memanfaatkan limbah sebagai bahan inovasi teknologi. Mereka menilai keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Kisah dua siswa SMAN 28 Jakarta ini memperlihatkan bahwa sampah plastik bekas dapat berubah menjadi teknologi bernilai tinggi jika diolah dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat belajar yang kuat.
Penulis: Meilia Dewi Pertiwi



