Pelatihan PM-KKA Mulai Ubah Ruang Kelas, Murid Kini Lebih Aktif Belajar

Must read

EDUCARE.CO.ID – Cara belajar di ruang kelas mulai mengalami perubahan. Kini, murid tidak hanya duduk dan menerima materi dari guru. Mereka juga diajak berdiskusi, bereksplorasi, serta menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Perubahan tersebut mulai dirasakan sejumlah guru setelah mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (PM-KKA).

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), program ini mendorong guru menghadirkan proses belajar yang lebih bermakna. Selain itu, guru dapat menyesuaikan pendekatan belajar dengan kebutuhan murid.

Guru Mulai Ubah Pendekatan Belajar di Kelas

Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani, menjadi salah satu guru yang merasakan manfaat pelatihan PM-KKA. Setelah mengikuti program tersebut, ia memahami bahwa pembelajaran aktif saja belum cukup.

Menurut Tri, guru juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak.

Untuk murid TK, Tri mengenalkan cara berpikir komputasional sejak dini. Materinya mencakup dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi.

Namun, pendekatan tersebut tidak selalu menggunakan komputer atau gawai. Karena itu, kegiatan belajar juga dapat membantu mengurangi screen time pada anak.

“Misalnya saya ingin mengenalkan numerasi kepada anak. Kebetulan tema yang sedang dipelajari adalah bayam. Kalau sebelumnya mereka hanya menghitung daun bayam, sekarang dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam kami menghubungkannya dengan tema yang sedang dipelajari. Kami juga memberikan afirmasi bahwa bayam menyehatkan tubuh dan mengandung zat besi,” ujar Tri.

Melalui cara tersebut, anak tidak hanya belajar berhitung. Mereka juga memahami manfaat objek yang sedang dipelajari.

Pembelajaran Jadi Lebih Dekat dengan Kehidupan Murid

Pengalaman serupa dirasakan Muhammad Jiyad Prawira, guru SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur.

Menurut Jiyad, pendekatan Pembelajaran Mendalam membuat suasana kelas semakin hidup. Guru dapat menghubungkan materi dengan lingkungan dan budaya yang dekat dengan murid.

“Sekarang anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Saya menghubungkan budaya lokal dengan matematika maupun pelajaran lain sehingga mereka lebih aktif, antusias, dan mudah memahami pelajaran,” ungkap Jiyad.

Dengan pendekatan itu, murid dapat melihat hubungan antara materi sekolah dan kehidupan nyata. Selain itu, mereka menjadi lebih aktif selama proses belajar.

Pelatihan Mandiri PM-KKA Perluas Kesempatan Guru

Pengalaman Tri dan Jiyad menunjukkan dampak pelatihan PM-KKA di ruang kelas. Oleh karena itu, Kemendikdasmen terus memperluas kesempatan belajar bagi guru melalui Pelatihan Mandiri PM-KKA.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan pengembangan dari pelatihan yang telah berjalan sejak 2025.

Pada 2026, Kemendikdasmen menambah modul dan menyempurnakan pendekatan pelatihan. Dengan demikian, materi yang tersedia dapat semakin sesuai dengan kebutuhan guru.

“Tahun ini ada tambahan modul. Selain pelatihan secara luring melalui KKG, MGMP, MKKS, dan Hari Belajar Guru, kami juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk mengikuti pelatihan mandiri,” ujar Nunuk usai peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta, Kamis (9/7).

Sekolah Jadi Laboratorium Pembelajaran Guru

Pada tahun ini, pelatihan PM-KKA menggunakan pendekatan Teacher Experimental Training (TET). Melalui pendekatan tersebut, guru menjadikan sekolah sebagai ruang untuk mengembangkan praktik pembelajaran.

Guru terlebih dahulu mengikuti pelatihan. Selanjutnya, mereka mencoba pendekatan tersebut secara langsung di kelas.

Setelah itu, para guru melakukan refleksi bersama melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Pendekatan ini juga menyesuaikan karakter setiap mata pelajaran. Karena itu, guru dapat bertukar pengalaman dan membahas praktik pembelajaran bersama rekan sejawat.

Mendikdasmen: Guru Tetap Jadi Fasilitator Utama

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya peran guru dalam Pembelajaran Mendalam.

Menurutnya, guru tetap aktif mendampingi murid selama proses belajar. Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator melalui konsep 3P, yakni Presage, Process, dan Product.

“Guru menjadi fasilitator yang tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Murid dapat menceritakan pengalamannya, saling berdiskusi, dan membangun engagement dalam proses belajar,” jelas Abdul Mu’ti.

Melalui proses tersebut, murid memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman dan bertukar gagasan. Sementara itu, guru membantu mereka membangun pemahaman yang lebih kuat.

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan pada seluruh mata pelajaran. Namun, guru perlu menyesuaikan penerapannya dengan karakter setiap bidang studi.

Karena itu, Kemendikdasmen membuka pelatihan bagi guru dari berbagai mata pelajaran. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mendorong pembelajaran yang lebih kontekstual, aktif, dan bermakna di sekolah.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article

spot_img