EDUCARE.CO.ID – Hari pertama sekolah menjadi fase penting bagi anak usia dini. Pada masa ini, anak mulai mengenal lingkungan baru, bertemu guru, dan membangun hubungan dengan teman sebaya.
Karena itu, sekolah perlu menciptakan pengalaman awal yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Pendekatan tersebut juga menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelang tahun ajaran baru 2026/2027.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengajak seluruh satuan pendidikan membangun lingkungan belajar yang ramah bagi anak.

MPLS Jadi Masa Penting bagi Anak Usia Dini
Bagi anak usia dini, masuk sekolah bukan sekadar memulai kegiatan belajar. Mereka juga menjalani proses transisi menuju lingkungan yang benar-benar baru.
Oleh sebab itu, sekolah perlu membantu anak membangun rasa aman dan percaya diri. Selain itu, guru perlu menciptakan hubungan yang hangat sejak hari pertama.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang sejalan dengan gerakan budaya ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
“Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden tentang membangun gerakan budaya yang ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Maka kami mengajak semua pihak yang menyelenggarakan pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, sekolah perlu menjaga lingkungan fisik, sosial, spiritual, dan intelektual. Dengan pendekatan tersebut, anak dapat belajar dengan gembira dan melihat sekolah sebagai rumah kedua.
TK ABA Semesta Siapkan Masa Adaptasi Dua Minggu
Salah satu praktik tersebut hadir di TK ABA Semesta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah ini menyiapkan masa adaptasi selama dua minggu bagi murid baru.
Selama periode tersebut, sekolah belum langsung memberikan pembelajaran terstruktur. Sebaliknya, guru mengajak anak mengenal lingkungan dan membangun kedekatan secara bertahap.
Kepala TK ABA Semesta, Shofia Amalia, mengatakan kenyamanan anak menjadi fokus utama selama masa pengenalan.
“Selama dua minggu pertama belum ada pembelajaran yang terstruktur. Fokus kami adalah mengenalkan lingkungan sekolah, membangun kedekatan antara anak dan guru, serta menghadirkan berbagai kegiatan bermain dan eksplorasi agar anak merasa nyaman,” jelas Shofia.
Pada saat yang sama, guru melakukan observasi awal terhadap setiap anak. Hasil pengamatan itu membantu guru mengenali kemampuan, kebutuhan, dan karakter anak.
Selanjutnya, guru dapat menyusun kegiatan belajar sesuai tahap perkembangan masing-masing murid.
Bermain Jadi Cara Anak Mengenal Sekolah
Selama masa adaptasi, anak mengikuti berbagai aktivitas yang dekat dengan dunia mereka. Misalnya, guru mengajak murid bermain bersama, bergerak melalui aktivitas motorik, mendengarkan dongeng, dan membuat karya sederhana.
Selain itu, sekolah menyediakan waktu free play pada awal kegiatan. Anak dapat mengeksplorasi lingkungan sekolah tanpa tekanan.
Melalui kegiatan tersebut, bermain menjadi media utama dalam proses belajar. Sementara itu, guru hadir sebagai pendamping yang membantu anak berinteraksi dan membangun keberanian.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat MPLS Ramah 2026 yang mengutamakan pengalaman positif dan menghormati hak anak sejak hari pertama sekolah.
Dukungan Orang Tua Bantu Anak Beradaptasi
Namun, sekolah tidak dapat menjalankan proses adaptasi sendirian. Dukungan orang tua juga memiliki peran penting.
Guru TK ABA Semesta, Ani Maghfiroh, menilai kepercayaan orang tua terhadap sekolah dapat membantu proses transisi anak.
“Ketika orang tuanya ikhlas melepas anak ke sekolah, percaya pada sekolah, maka proses transisinya akan menjadi lebih mudah,” ungkap Ani.
Karena itu, sekolah mengadakan pertemuan dengan orang tua sebelum tahun ajaran dimulai. Dalam pertemuan tersebut, sekolah menjelaskan program belajar, tata tertib, dan peran keluarga.
Ke depan, TK ABA Semesta juga berencana menghadirkan program Ayah Bercerita. Program tersebut akan melibatkan orang tua dalam kegiatan literasi bersama anak.
Literasi Dibangun Sejak Usia Dini
Selain kegiatan bermain, sekolah membiasakan anak mendengarkan cerita. Guru memanfaatkan kegiatan bercerita untuk mengenalkan literasi secara menyenangkan.
Kebiasaan membaca cerita dapat membantu anak mengenal bahasa dan membangun minat terhadap buku. Selain itu, interaksi saat bercerita juga dapat mempererat hubungan anak dengan orang dewasa.
Pada akhirnya, praktik TK ABA Semesta menunjukkan pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru, dan keluarga. MPLS tidak hanya menjadi agenda awal tahun ajaran.
Lebih dari itu, masa pengenalan dapat menjadi langkah pertama untuk membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan kegembiraan belajar pada anak.




