EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak negara-negara Asia Tenggara memperkuat kolaborasi riset untuk mendukung lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih efektif dan berdampak.
Ajakan tersebut disampaikan dalam SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang digelar Kemendikdasmen bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat.
Berdasarkan rilis Kemendikdasmen, forum ini menghadirkan sekitar 200 peserta. Mereka berasal dari kalangan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan.
Selama tiga hari, peserta membahas berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi kawasan Asia Tenggara. Topiknya meliputi pemerataan akses pendidikan, transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), pengembangan guru, hingga pendidikan inklusif.

Riset dan Kebijakan Harus Saling Terhubung
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menilai tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks.
Karena itu, menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan hasil penelitian yang kuat.
Abdul Mu’ti menyoroti masih adanya jarak antara dunia riset dan proses pengambilan kebijakan.
Menurutnya, banyak penelitian yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebaliknya, sebagian kebijakan juga belum sepenuhnya mengacu pada hasil riset.
“Jembatan antara riset dan kebijakan sering kali terputus. Peneliti menerbitkan hasil penelitian yang tidak dibaca pembuat kebijakan, sementara pembuat kebijakan mengambil keputusan tanpa memanfaatkan hasil riset,” ujarnya saat membuka forum di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa peneliti dan pembuat kebijakan perlu duduk bersama sejak awal agar solusi yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan pendidikan.
Asia Tenggara Hadapi Tantangan yang Sama
Forum CPRN Summit 2026 mengangkat tema Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable and Sustainable Futures.
Tema tersebut menegaskan pentingnya hubungan yang kuat antara penelitian, kebijakan, dan praktik pendidikan.
Presiden Dewan SEAMEO, Datin Seri Setia Dr. Hajah Romaizah binti Haji Mohd Salleh, mengatakan bahwa hasil penelitian harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik.
Sebaliknya, hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang berdampak.
Sementara itu, Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany, menjelaskan bahwa forum ini juga bertujuan membangun jejaring profesional dan kemitraan baru di kawasan.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menghasilkan rekomendasi yang mendorong perubahan nyata di sektor pendidikan.
AI Ubah Dunia Kerja, Pendidikan Harus Siap
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam forum ini adalah perkembangan AI dan otomatisasi.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa adopsi AI dan robot di lima negara Asia Tenggara menciptakan sekitar dua juta lapangan kerja terampil selama periode 2018–2022.
Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut juga menggeser sekitar 1,4 juta pekerja dengan keterampilan rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan perlu beradaptasi dengan cepat.
Karena itu, Kemendikdasmen mendorong penerapan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy.
Pendekatan ini memanfaatkan hasil penelitian, pengalaman lapangan, dan aspirasi masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Indonesia Percepat Transformasi Pendidikan
Dalam rilisnya, Kemendikdasmen menjelaskan bahwa Indonesia terus menjalankan transformasi pendidikan melalui pendekatan Deep Learning.
Pendekatan ini mendorong proses belajar yang lebih sadar, bermakna, dan menyenangkan.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat kompetensi guru di bidang AI, coding, STEM, dan pendidikan karakter.
Kemendikdasmen juga meningkatkan tata kelola data pendidikan dan memperluas pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Di sisi lain, pemerintah terus menjalankan revitalisasi satuan pendidikan untuk mendukung kualitas layanan belajar.
Hasil Forum Akan Jadi Rekomendasi Kebijakan
Kemendikdasmen menegaskan bahwa hasil penelitian harus memberi dampak nyata.
Karena itu, CPRN Summit 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi.
Forum ini juga menghasilkan berbagai luaran yang dapat dimanfaatkan oleh negara-negara anggota SEAMEO.
Luaran tersebut meliputi rekomendasi kebijakan, prosiding ilmiah terindeks Scopus, artikel jurnal akademik, dan buku untuk peneliti maupun praktisi pendidikan.
Melalui kolaborasi regional yang semakin kuat, Kemendikdasmen berharap negara-negara Asia Tenggara dapat membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.



