educare.co.id, Jakarta Kemendikbud — Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni dan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menyelenggarakan Kemah Karakter Virtual Anak Indonesia pada 6 s.d. 9 Juli 2019 di Jakarta dan diikuti secara virtual oleh 2982 peserta dari 34 provinsi, yang terdiri dari jenjang PAUD/PAUDLB, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB dan SMK/SMKLB.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Ainun Na’im dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini memang diperlukan oleh anak-anak agar mereka tetap aktif mengembangkan diri dengan suasana yang menyenangkan.

“Suasananya menyenangkan tapi tetap termotivasi menyelesaikan menghadapi tantangan yang ada, mengembangkan diri agar nanti menjadi generasi yang lebih baik untuk membawa Indonesia ke masa emasnya,” demikian kata Ainun melalui pertemuan telekonferensi di Jakarta pada Senin (6/7).

Menurut Ainun kegiatan yang sifatnya virtual agar tidak membosankan adalah dengan memikirkan cara mengemas, mengelola, membuat skema, dan melaksanakannya sehingga bisa menarik.

“Saya yakin kemah virtual ini bersama Bapak, Ibu, dan para fasilitator serta narasumber tentu akan bisa menciptakan keadaan menjadi menarik sehingga  anak-anak bisa mengembangkan diri dalam situasi yang sangat menarik, hangat, kemudian muncul ke pengembangan karakter-karakter yaitu pelajar Pancasila yang berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, memiliki jiwa gotong-royong dan kebhinekaan global,” jelas Ainun.

Sementara itu Kepala Puspeka, Hendarman, dalam sambutannya menjelaskan tujuan diadakannya acara ini yaitu: (1) Menumbuhkan kecintaan akan Pancasila pada generasi muda; (2) Memberikan pemahaman tentang pentingnya Pancasila dalam kebhinekaan global; (3) Mengajak generasi muda untuk  mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari; dan (4) Menjalin hubungan semakin erat para siswa dengan orang tua dan anggota keluarga dalam praktik baik sehari-hari.

“Jadi nanti tugas yang diberikan itu memang dikaitkan dengan keluarga. Kami merasakan bahwa memang peran keluarga sangat penting apalagi di dalam masa pandemi ini,” terangnya.

Pemberian Motivasi dan Pendidikan Pencegahan Covid-19

Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi, mengungkapkan bahwa untuk menghindari Covid-19, anak-anak perlu tetap di rumah dan bila terpaksa ke luar rumah maka orang tua harus memakaikan masker pada anak-anak.

“Selain itu anak-anak harus rajin mencuci tangan, jangan menyentuh wajah terutama hidung, mata dan mulut, hindari kerumunan orang dan menjaga jarak dengan orang lain sejauh 2 meter, mengganti baju dan bersihkan tubuh segera setelah tiba di rumah, istirahat yang cukup, olahraga selama 30 menit setiap hari,” tegas Hartono.

Ia menambahkan agar orang tua tidak lupa melengkapi imunisasi sesuai anjuran Kementerian Kesehatan, berikan pada anak nutrisi yang seimbang, bersihkan barang-barang dan ruangan dengan desinfektan,” imbuhnya.

Sementara itu Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini, Diena Haryana, menjelaskan kepada para peserta mengenai anak Indonesia yang bahagia. Menurut Diena, ciri anak yang sehat adalah anak yang gembira dan tetap berempati kepada sesama misalnya dengan menyiapkan sabun dan air di depan rumah masing-masing.

“Kita adalah anak yang cinta sesama, cinta damai, cinta lingkungan hidup dan pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan hidup karena kita adalah anak-anak Indonesia,” tutur Diena.

Selanjutnya Diena menegaskan bahwa anak Indonesia harus bebas dari adiksi, termasuk adiksi gawai karena anak-anak yang mengalami adiksi tidak lagi memiliki kedisiplinan maupun kebiasaan baik.

“Bagaimana bisa mewujudkan Indonesia yang kuat? Bagaimana bisa menjadi manusia yang hebat untuk Indonesia? Adiksi apapun merusak jiwa raga kita. Oleh karena itu kita harus menjaga diri kita dari adiksi apapun dan katakan pada diri sendiri “Aku harus tangguh!”,” pungkasnya.

Tidak kalah menarik, pada sesi terakhir menampilkan kakak beradik yaitu Rafi dan Rara Sudirman bersama sang ibu, Anggrainy Damanik. Rafi dan Rara sama-sama berbakat di bidang seni walaupun kedua orang tua mereka sama sekali tidak memiliki bakat seni.

Anggrainy menceritakan bahwa untuk mengetahui bakat anak-anak ini, dirinya tidak berhenti untuk mencari bakat mereka masing-masing, apalagi dahulu Rafi merupakan anak pemalu. Akhirnya Anggrainy mencontohkan pada anak-anaknya agar tidak malu untuk tampil di depan umum dengan mengikuti kegiatan di sekolah sang anak untuk menjadi pembawa acara dan sebagainya.

“Saya tidak bisa menyuruh anak untuk melakukan suatu hal tanpa memberikan contoh,” tutupnya.