Metamorfosis Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Rektor Telkom University Adiwijaya menyatakan pandemi virus korona (covid-19) mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan aktivitas masyarakat, membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan.

“Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah pun ‘dipaksa’ untuk melakukan pembelajaran dari rumah,” kata Adiwijaya melalui siaran pers, Jumat 24 April 2020.

Ia menjelaskan disrupsi teknologi terjadi di dunia Pendidikan, pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah, secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis. Ia menyatakan, tak bisa dipungkiri di atas 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.

“Ini adalah data sebelum pandemi dimulai, setelah masa pandemi mungkin bisa lebih besar dari pada itu. Seperti halnya prediksi para ekonom, pandemi ini berpotensi memperburuk kondisi berbagai sektor, terutama eknonomi masyarakat,” bebernya.

Pembelajaran dari rumah benar-benar dirasakan berat bagi guru/dosen, para pelajar dan mahasiswa, bahkan orang tua. Semua lini masyarakat dipaksa untuk bertransformasi dan beradaptasi pada kondisi Pandemik ini.

Menurut Adiwijaya, banyak yang dapat dilakukan untuk setidaknya mengurangi dampak di bidang pendidikan, yakni melalui strategi pembelajaran jarak jauh (online). Masyarakat yang mampu diyakini lebih mudah beradaptasi secara ekonomi untuk berpindah ke strategi pembelajaran online. Meskipun, dalam kenyataannya, pasti banyak upaya dan tantangan yang dihadapi baik oleh guru/dosen maupun para pelajar dan mahasiswa bahkan orang tua mereka.

Ia menegaskan yang paling terkena dampak adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Belum seragamnya proses pembelajaran, baik itu terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi sebuah problematika besar di dunia pendidikan.

Belum lagi perubahan mendadak sistem pembelajaran yang berubah menjadi online. Selain menimbulkan tekanan secara fisik dan mental bagi siswa, guru bahkan orang tua, juga membuat sekolah sulit membuat tolok ukur capaian pembelajaran yang sama.

“Jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak dengan cepat dan tepat, maka ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran yang meliputi konektivitas internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam,” ujarnya.

Adiwijaya menyatakan beruntung pemerintah telah mengatisipasi hal ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan menginisiasi program belajar dari rumah yang ditayangkan di TVRI. Televisi yang selama ini menjadi media satu arah dalam menyampaikan informasi publik itu menjadi sebuah solusi yang inovatif ketika dimanfaatkan menjadi sumber informasi dan sumber edukasi bagi dunia pendidikan. Terutama, mulai dari pendidikan dasar hingga menengah.

Menurut dia, positioning TVRI bergeser di benak generasi milenial, di kala generasi milenial sudah mulai tidak berinteraksi dengan tayangan di TVRI, siswa sekarang kembali intens mencari sumber informasi dan menjadikan media televisi sebagai sumber belajar satu arah.

Namun, efektivitas program ini tentu tidak bisa disetarakan dengan interaksi pembelajaran langsung. Perbedaan pola pembelajaran yang biasanya on site menjadi online, yang biasanya pembelajaran tatap muka menjadi tatap layar, memunculkan peluang baru di dunia pendidikan untuk terus dikembangkan.

Transformasi dan adaptasi menjadikan peranan orang tua sebagai kunci keberhasilan untuk menghadapi situasi ini. Orang tua sebagai pintu pertama perubahan ini.

“Orang tua harus mampu bertransformasi dan berdaptasi terlebih dahulu, sehingga orang tua mampu menjadi pendamping atau mentor perubahan bagi anak-anaknya di rumah,” ujarnya.

Adiwijaya memahami, semua orang tua berharap anaknya menjadi orang yang terpelajar atau terdidik dengan baik. Persoalan-persoalan yang akan muncul di masa depan bisa dipastikan akan bertambah kompleks dan rumit. Seorang yang terdidik, dicirikan dengan sudut pandang yang lengkap, dan prilaku baik dalam menghadapi berbagai masalah.

Menurut dia, masa pandemi ini menjadi sebuah peluang untuk menyadarkan setiap orang tua bahwa beban pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan pada guru/dosen semata. Pembelajaran sesungguhnya merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Orang tua yang menjadi mentor dan pendamping di rumah merupakan role model perubahan sikap bagi siswa dalam berperilaku dan menghadapi permasalahan saat ini. Orang tua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah. Sekaligus, menanamkan pola berpikir yang positif sehingga menghadapi pandemi ini sebagai sebuah pola hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani.

“Sudah sepatutnya, kesadaran semacam ini muncul dari setiap elemen pendidikan, guru/dosen, para pelajar atau mahasiswa, termasuk orang tua,” ujarna.

Ia menegaskan pembelajaran tak hanya fokus pada objek yang dipelajari, tetapi setiap pendidik dan pembelajar fokus juga pada bagaimana berpikir dan berperilaku terhadap yang dipelajarinya. Hal ini berarti ranah pembelajaran tak hanya mencakup keahlian, juga bukan saja terhadap ilmu, tetapi juga mencakup pola pikir dalam menghadapi suatu permasalahan.

Dengan terbentuknya pola pikir yang siap unggul dalam menghadapi kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang, menjadi bekal penting bagi setiap individu. Selain itu, lanjut dia, pola pikir positif merupakan syarat cukup agar seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan juga berperilaku yang baik pula.

“Pola pikir positif akan memudahkan dalam impelementasi setiap materi pembelajaran yang diperlukan oleh para pembelajar (pelajar dan mahasiswa). Di sinilah peranan orang tua sebagai mentor/pendamping dan juga role model sesungguhnya,” jelasnya

Adiwijaya mengutip pernyataan Nelson Mandela kalau pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Ia juga teringat pendapat Malcolm X, pendidikan merupakan paspor untuk masa depan, karenanya hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini.

“Ali Bin Abi Thalib pun mengingatkan, ‘didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu,” ungkapnya.

Adiwijaya menegaskan segala proses menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik, tentunya menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya, sejauh mana peran setiap orang dalam mengemban amanah sebagai pendidik maupun pembelajar.

“Semoga pandemi covid-19 lekas berakhir, semua warga bangsa senantiasa sehat dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan menciptakan manusia manusia baru yang memiliki pola pikir positif yang sarat solidaritas sosial,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *