educare.co.id, Tangerang Selatan, Kemendikbud — Tahun ini, tepatnya pada 15 Juli 2020, platform Rumah Belajar menginjak usia 9 tahun. Untuk memeriahkan pencapaian ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) menyelenggarakan diseminasi pemanfaatan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk pembelajaran melalui Seminar Virtual dengan tajuk “Sajian Pembelajaran Duta Rumah Belajar Edisi Spesial HUT Ke-9” di 34 provinsi.

“Rumah Belajar pertama kali diluncurkan pada tahun 2011, berbagai inovasi pembelajaran digital terus dikembangkan agar pendidik dan peserta didik memiliki platform belajar andalan yang dapat dimanfaatkan gratis”, demikian disampaikan Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud, Hasan Chabibie, saat memberikan sambutan dalam Seminar Virtual di Tangerang Selatan, Banten pada Rabu (15/7).

Sepanjang perjalanannya, Rumah Belajar yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 2009-2014, Mohammad Nuh, telah bertransformasi setidaknya enam kali, baik dari peningkatan layanan, fitur, serta tampilan. Kini, Rumah Belajar telah digunakan oleh 14 juta siswa dan guru dan diakses lebih dari 157 juta kali.

Di era pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), menurut Hasan, ada banyak sekali hal yang harus diperhatikan agar semangat belajar peserta didik terjaga karena untuk pertama kalinya warga satuan pendidikan dipaksa untuk cepat beradaptasi dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Di satu sisi para guru mungkin memiliki keterbatasan dalam menyampaikan sejumlah materi. Sementara adik-adik kita yang adalah digital native juga membutuhkan informasi yang bisa mereka dapatkan di dunia maya sehingga lebih termotivasi pada saat mereka menggunakan semua media itu tadi,” terang Hasan.

Oleh karena itu, lanjut Hasan inovasi menjadi kata kunci dan TIK di sekolah bisa meningkatkan kualitas pembelajaran maupun layanan.

Pada perjalanannya dari masa ke masa, Rumah Belajar berkembang dari sekedar aplikasi digital yang menyediakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan bank soal  pengayaan. Saat ini, telah tersedia berbagai fitur pembelajaran dari sumber belajar yang menyediakan konten belajar interaktif baik itu yang berbasis video, audio, dan multimedia. Selain itu, saat ini Rumah Belajar telah memiliki Kelas Maya sebagai learning management system, Laboratorium Maya untuk simulasi percobaan sains digital, Buku Sekolah Elektronik, Wahana Jelajah Angkasa, Karya Bahasa dan Sastra dan masih banyak lagi.

Pada perayaan HUT ke-9 ini, Rumah Belajar meluncurkan fitur baru yaitu Edugame. Edugame adalah fitur permainan interaktif yang memastikan siswa dapat memahami konsep dasar materi dengan bermain permainan digital interaktif.

Selain fitur-fitur pembelajaran untuk siswa, Rumah Belajar juga menyediakan fitur Sistem Informasi Manajemen Pelatihan TIK (SimpaTIK) yang menyediakan informasi kegiatan peningkatan kompetensi TIK untuk pembelajaran yang menargetkan guru, baik PNS maupun Non-PNS.

Masifnya pemanfaatan Rumah Belajar tidak terlepas dari peran Duta Rumah Belajar masing-masing provinsi. Saat ini Kemendikbud memiliki 102 Duta Rumah Belajar yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten dari Aceh hingga Papua.

Duta Rumah Belajar merupakan guru-guru terpilih melalui proses seleksi program Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK). Duta Rumah Belajar menjadi agen Kemendikbud untuk menyosialisasikan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran. Para guru ini akan menjadi penggerak dan inspirasi guru lainnya serta komunitas di wilayah representatif mereka untuk membangun budaya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

“Para guru ini menjadi contoh penerapan belajar jarak jauh pada era pandemi. Selain menyosialiasikan program-program Kemendikbud terkait Belajar dari Rumah kepada guru dan siswa di daerahnya, Duta Rumah Belajar juga menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” ungkap Hasan.

Untuk mempersiapkan tahun ajaran baru, selain semakin memperkaya konten, Rumah Belajar juga menyediakan kelas-kelas terbuka baik secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung (sinkronus) dilaksanakan pada program Sajian Pembelajaran Duta Rumah Belajar (belajar.kemdikbud.go.id/sapadrb) dan secara tidak langsung (asinkronus) melalui Kelas Maya Terbuka.

Kali ini untuk memeriahkan HUT ke-9 Rumah Belajar, para guru kreatif ini berinisiatif untuk melakukan diseminasi secara daring di provinsi masing-masing. Acara yang diselenggarakan serentak dalam waktu yang bersamaan ini turut mengundang para kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) serta pejabat terkait di daerah masing-masing.

Untuk itu, Hasan berharap agar dinas pendidikan provinsi, dan kabupaten/kota serta LPMP tetap memberikan dukungan penuh terhadap Rumah Belajar.

“Keterlibatan para pemangku kebijakan di daerah pada momentum ini sekaligus menjadi diskusi terbuka terkait strategi masing-masing daerah untuk menghadapi era kebiasaan baru pada Tahun Ajaran Baru 2020/2021,” ujar Hasan.

Hal ini diharapkan dapat menjadi sinergi pusat dan daerah, terutama untuk optimalisasi pemanfaatan platform belajar digital yang telah disediakan oleh Kemendikbud.

“Kami berharap Rumah Belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perbaikan berkelanjutan bagi dunia pendidikan di Indonesia,” pungkasnya.