Praktik Baik Literasi Turut Majukan Pendidikan di Kalimantan Utara

Senin, 30 Jul 2018 wib

Jamil
Editor : Jamil

Praktik Baik Literasi Turut Majukan Pendidikan di Kalimantan Utara


educare.co.id, Jakarta - Bagaimana sebuah sekolah di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang awalnya berjuluk kandang ayam karena kumuh kemudian berubah menjadi salah satu sekolah penerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo?

Bagaimana pula sekolah yang berada di pedesaan yang berjarak 45 menit dari Tanjung Selor, ibukota Kabupaten Bulungan, dapat menjadi sekolah yang maju praktik literasinya? Padahal sinyal telepon seluler saja tidak sampai ke wilayah ini.

Adalah peran kepala sekolah dan guru di sekolah masing-masing yang serius dalam upaya memajukan anak didiknya, terutama dalam menghadapi tantangan rendahnya tingkat literasi di sekolah. Dalam forum diskusi Temu INOVASI yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud bersama dengan program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), di kantor Kemendikbud, Kamis (26/7), para guru menceritakan pengalamannya.

Kuleh Lenjau, 58 tahun, adalah guru kelas 1 Sekolah Dasar Negeri 008 Baratan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara yang selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan mengajarkan keterampilan membaca kepada anak didiknya. Setiap tahun setidaknya ada 3-4 peserta didik yang tidak naik kelas karena tidak mampu mengeja kata, padahal itu adalah syarat standar kenaikan kelas.

Kuleh menyadari, cara mengajar guru merupakan faktor penting yang mempengaruhi kemampuan anak dalam menerima pembelajaran. Ia kemudian mengikuti kegiatan yang dilakukan INOVASI dan mulai mengubah caranya mengajar. Ia mempraktikkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).

Kuleh pun lebih banyak memberikan contoh langsung kepada anak didiknya. “Kita ikuti, mengajak anak-anak, jangan hanya nyuruh saja. Macam membersihkan kelas, biarpun saya menghukum tapi saya ikut membersihkan, anak-anak yang tidak dihukum pun ikut bantu,” ujar Kuleh. Seiring dengan tingkat partisipasi belajar peserta didik yang meningkat, keterampilan membaca para peserta didik pun meningkat lebih cepat.

Kisah lain dialami Martiana Are, kepala sekolah SD Negeri 006 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Atas kerja keras dan inovasi tanpa hentinya, Martiana berhasil membawa SD Negeri 006 Tanjung Selor menjadi sekolah yang berprestasi. Padahal, pada awalnya sekolah tersebut dianggap kumuh, karena itu dijuluki sekolah kandang ayam.

Hal utama yang Martiana ubah adalah administrasi sekolah. Setelah itu Ia mulai pembenahan lingkungan dan karakter peserta didik. “Saya ajak menanam, tanam apa saja dulu, yang tidak bagus kita pangkas. Setelah itu tanamkan karakter, (tadinya) setiap hari ada yang kelahi, ada yang bully. Saya tanamkan salam, senyum, sekarang hampir tidak ada yang seperti itu,” ungkap Martiana.

Setelah berhasil membawa sekolahnya meraih penghargaan sekolah Adiwiata Nasional Mandiri pada tahun 2017, Martiana terpilih menjadi fasilitator program INOVASI. Ia pun mulai mengenal praktik literasi lebih baik. “Saya mengembangkan literasi di sekolah, karena sekolah sudah baik aman dan nyaman, saya beralih ke literasi, karena literasi ini anak-anak bisa menulis, bisa memahami arti bacaan,” lanjut Martiana.

Ia membiasakan anak didiknya untuk menulis setiap hari, menuangkan pengalaman atau benang merah dari buku apa pun yang mereka baca. Pembiasaan itu datangnya dari diri Martiana sendiri. Ia juga mengajak para guru dan orang tua siswa bekerja sama mewujudkan tingkat literasi yang lebih baik melalui berbagai aktivitas dan lomba, seperti lomba membacakan cerita untuk anak bagi orang tua siswa.

Kini Martiana dan Kuleh mulai menuai hasil di sekolahnya masing-masing. Martiana berharap agar sekolahnya bisa meraih prestasi yang lebih tinggi, “Harapan saya yang belum terealisasi, ingin sekolah Adiwiata sampai ke Asean, karena saya lihat sistemnya “kawin” dengan literasi,” pungkasnya. Sedangkah bagi Kuleh, meskipun dua tahun lagi memasuki masa pensiun, jika tenaganya msih diperlukan, Ia ingin tetap bergerak membantu sekolah, terutama dalam upaya meningkatkan literasi peserta didik.