Geliat Pendidikan Vokasi di Wilayah Perbatasan

, 08 Okt 2016 | 07:06:28 wib


educare.co.id, Jayapura - Seiring dengan rencana pemerintah memperkuat pendidikan vokasi sebagai upaya meningkatkan daya saing bangsa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menjalin kerja sama antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah dan industri sesuai amanah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
Dalam kunjungan kerjanya ke Propinsi Papua, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah ikut serta dalam program penguatan pendidikan vokasi yang sedang dilakukan pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga.
“Kita akan membangun SMK yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Karena itu mohon kami diberikan masukan mengenai hal itu. Saya berharap ada penambahan beberapa SMK di sini,” disampaikan Mendikbud pada pertemuan dengan pendidik dan calon guru di Kolese Pendidikan Guru (KPG) Merauke, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua (6/10/2016).
Lebih lanjut, Mendikbud menyatakan bahwa tidak ada negara maju yang tidak didukung oleh angkatan kerja yang terampil kelas menengah. Maka itu, ia sampaikan pentingnya pendidikan vokasi sebagai upaya menyiapkan peserta didik menjadi tenaga terampil yang siap memasuki dunia kerja serta mampu bersaing.
Pemerintah memandang penyiapan tenaga terampil ini strategis, mengingat perlunya pemanfaatan bonus demografi Indonesia agar dapat menjadi kelas menengah produktif yang berkontribusi pada pembangunan nasional.
Dalam kunjungan kerja selama tiga hari di Propinsi Papua, Mendikbud bersama tim meninjau beberapa sekolah menengah kejuruan yang ada di Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Jayapura. Pada hari Kamis (6/10/2016), Mendikbud berkesempatan melihat langsung proses belajar di SMK Negeri 1 Sota yang terletak di dekat titik perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini.
Pada kesempatan tersebut, ia mendapatkan informasi bahwa peserta didik di SMK Negeri 1 Sota ini terdapat sejumlah 101 siswa, diantaranya sebanyak 30 siswa merupakan warga negara dari Papua Nugini yang memilih meneruskan pendidikan di Indonesia. SMK N 1 Sota mengembangkan bidang keahlian agribisnis, dan agroteknologi.
Saat ini SMK Negeri 1 Sota sedang melakukan pengembangan gedung sekolah dan asrama untuk menampung siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah. Menurut Kepala Sekolah, Karolus Tumuka, asrama dirasa sangat membantu siswa yang ingin belajar namun selama ini terkendala sulitnya akses ke sekolah.
“Siswa menjadi lebih fokus belajar karena tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh untuk bersekolah,” ujar Karolus.
Di hari kedua, Kamis (7/10/2016), Mendikbud berkunjung ke SMK Antonius Merauke di Papua. Sekolah ini memiliki 409 siswa, 37 orang guru, dengan bidang keahlian teknik otomotif, teknik komputer jaringan, teknik gambar bangunan, dan teknik pengelasan.
Mendikbud memberikan apresiasinya kepada para siswa yang giat belajar, seraya memberikan motivasi agar para siswa tidak hanya melatih keterampilan, namun juga berlatih sikap (attitude) yang baik dan mencerminkan seorang profesional.
Tim kunjungan kerja melanjutkan peninjauan ke kawasan pendidikan Muhammadiyah Merauke yang sedang melakukan pengembangan sekolah menengah kejuruan. Kepada para pengurus yayasan dan komite sekolah, Mendikbud berpesan agar jurusan yang dikembangkan sesuai dengan arahan Presiden, yaitu bidang kelautan/maritim, ketahanan pangan, energi, infrastruktur, pariwisata serta industri kreatif.
Pada hari ketiga, Jumat (7/10/2016) kunjungan kerja, Mendikbud meninjau lokasi pengembangan SMK Penerbangan di Sentani Jayapura. SMK ini memiliki 240 siswa dengan pengembangan bidang keahlian permesinan pesawat udara, dan pemeliharaan pesawat udara.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Propinsi Papua, Pendeta Charles Simare mare yang ikut serta dalam kunjungan kerja itu menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah pusat yang ingin mengembangkan dan memperkuat pendidikan vokasi di Papua.
Bagi Charles, kebutuhan tenaga terampil yang memiliki karakter baik sangat dibutuhkan untuk pengembangan wilayah Papua. Senada dengan pernyataan Mendikbud, ia menyampaikan bahwa pengembangan SMK penerbangan di Jayapura dianggap sesuai dengan kebutuhan wilayah Papua yang memiliki tantangan geografis yang cukup tinggi, dan transportasi udara masih sangat diperlukan untuk menjawab tantangan itu.
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan kemendikbud, (Dirjen Pembinaan SMK) Mustaghfirin Amin, menyatakan bahwa saat ini peta pengembangan SMK telah rampung. Selain bantuan peningkatan sarana dan prasarana, pihaknya sedang berupaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum, penyediaan guru-guru produktif, dan peningkatkan kebekerjaan lulusan SMK melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Tags: