Bangun Sekolah Berasrama di Papua, Diaspora Amerika Terapkan Pendidikan Karakter

Sabtu, 14 Apr 2018 wib

fathul jamil
Editor : fathul jamil

Bangun Sekolah Berasrama di Papua, Diaspora Amerika Terapkan Pendidikan Karakter


educare.co.id, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy beraudiensi dengan Indonesian American Society of Academics (IASA) mengenai rencana membangun sekolah berasrama di Papua. IASA merupakan organisasi diaspora Indonesia di Amerika yang anggotanya terdiri dari para akademisi hingga tingkat profesor.

Seperti yang di rilis dari laman kemdikbud.go.id, Ketua Indonesian American Society of Academics (IASA), Edward Wanandi mengatakan, diaspora Amerika yang bergabung dalam IASA sepakat untuk membangun sekolah berasrama di Papua sebagai wujud nyata kontribusi diaspora untuk negeri. Dua daerah di Papua yang akan menjadi lokasi pembangunan sekolah berasrama oleh IASA yaitu Jayapura dan Nabire.

“Program pendidikan untuk Papua akan dibagi untuk dua sekolah, yaitu SMAN 3 di Jayapura dan SMA Yayasan Adi Luhur di Nabire. Kelihatannya mereka cukup siap menerima program yang akan kami jalankan,” kata Edward Wanandi saat beraudiensi dengan Mendikbud di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (13/4/2018).

Ia menambahkan, selain membangun sekolah berasrama, IASA juga akan memberikan bantuan pelatihan untuk guru dalam hal metode pengajaran. “Ada beberapa teknik baru yang bisa kita berikan, seperti metode pengajaran baru. Mohon dukungan dari Kemendikbud juga,” tuturnya.

Dalam memberikan pelatihan guru, IASA akan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013. Tim IASA yang terdiri dari 20 profesor Indonesia yang ada di Amerika sudah mempelajari Kurikulum 2013 dan mencari penyesuaian yang tepat untuk diterapkan di sekolah berasrama di Papua.

“Kami memberikan penambahan khusus untuk Papua. Akan lebih menarik jika banyak pembelajaran di luar kelas, sehingga waktu keberadaan siswa di dalam kelas bisa berkurang 4 sampai 5 jam dalam seminggu,” ujar Edward. IASA juga akan bekerja sama dengan kepala sekolah guru-guru di Papua untuk merancang metode pembelajaran di sekolah berasrama.

Menanggapi hal tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan dukungannya. Ia menuturkan, metode pembelajaran di luar kelas sesuai dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menjadi salah satu program prioritas Kemendikbud. Menurutnya, paradigma yang berkembang selama ini di masyarakat adalah belajar hanya bisa dilakukan di dalam ruang kelas. “Kita harus mengubah paradigma itu. Belajar bisa di luar kelas, di luar sekolah, keluarga juga bisa menjadi tempat belajar,” katanya.

Dalam pertemuannya dengan IASA, Mendikbud didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad. Hamid menyarankan agar IASA juga aktif melibatkan pemerintah daerah dalam membangun sekolah berasrama. Karena setelah sekolah selesai dibangun, selanjutnya sekolah akan berada di bawah wewenang atau binaan pemerintah daerah.